Di dalam kamus bahasa Arab “Lisan Al’Arab” (1/614……………) kata harakah yang berasal dari haraka berarti Dhid As Sukun (lawan kata dari diam, tak bergerak), yang berarti menyatakan bahwa harakah adalah suatu gerakan.
Saat kebodohan, keterbelakangan dan kehancuran dunia Islam mencapai titik klimaksnya, serta bangsa Barat pun mencoba memaksa bagian-bagian negeri kaum muslimin untuk tunduk di bawah kekuasaan militer, politik dan kebudayaannya, hingga pertarungan pun semakin sengit. Maka, muncullah tokoh-tokoh yang mengemban dakwah ummat di pundak-pundak mereka menuju kebangkitan serta mengerahkan semaksimal kemampuan mereka dalam mengembalikan kepercayaan Islam sebagai manhaj kehidupan yang sempurna setelah sebelumnya mengalami kemandulan dalam jiwa-jiwa dan akal-akal insani.
Sejumlah kaum muslimin pun menyambut seruan para pahlawan tersebut dan berdiri di bawah panji-panji mereka. Saat itulah lahir apa yang dikenal dengan “Harakah Islamiyah Moderen” yang diwujudkan melalui berbagai organisasi.
Jika kita mau merenungkan tentang dien ini, niscaya kita dapat menegtahui bahwa seluruh ungkapannya menjadikan para pemeluknya sebagai da’i (penyeru) ke jalan Allah dan penunjuk jalan-Nya. Jika semakin kita renungkan, seseorang dapat melihat bahwa siapa saja yang akan menjadi muslim tanpa peran dan tanggung jawabnya terhadap Islam, maka dia telah menempatkan dirinya sama seperti sikap beragamanya para pendeta di kuil-kuil, dan gereja-gereja, padahal di dalam Islam tidak ada namanya rahbaniyah (kependetaan).
Di antara perintah Rabbani pertama kali yang diturunkan dalam Al-Quran adalah : perintah memberi peringatan dan menyampaikan wahyu kepada seluruh mahluk. Allah Ta’ala berfirman :
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu beri peringatan!
(QS. 74 :1-2)
Kemudian, berlanjut dengan apa yang dinamakan fiqh dakwah, dimana ayat yang turun berisi tentang situasi dakwah, seperti firman Allah Ta’la :
“Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik” (Qs. 15:94)
Katakanlah : “Inilah jalan (agamaku), aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang musyrik” (Qs. 12:108).
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik (Qs. 16:125)
Semua ayat tesebut menggambarkan sosok seorang da’i muslim yang mengikuti jejak hidup Nabi.
Di antara pembentukan penting pertama yang diperhatikan beliau adalah kepribadian da’i yang akan mengemban dan menyebarkan tanggung jawab dakwah. Orang yang pertama beliau dakwahkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq yang merupakan sosok yang tidak pernah berhenti dan lelah berdakwah. Bahkan, beliaulah orang yang pertama bergerak menyebarkan dakwah secara maksimal, hingga 6 orang tokoh pemuda Quraisy masuk Islam, disamping upayanya yang besar dalam membebaskan para budak yang masuk Islam dari belenggu perbudakannya.
Sesungghnya gerakan para shahabat Nabi setelah beliau wafat merupakan bukti nyata bahwa kepribadian yang beliau bentuk dan bina adalah kepribadian mutaharrik (pergerakan) terhadap dien yang tidak pernah diam dan beku.
Kita memiliki teladan dan contoh terbaik yaitu imam para da’i di kalangan salafus shaleh yang merantau menyebarkan dan menghantarkan dakwah. Merekalah yang mengawali datang menemui sekian ummat, tanpa menunggu ummat datang menemui mereka untuk menanyakan banyak persoalan kepada mereka. Ingatlah kisah seorang Arab desa datang menemui Nabi dan berkata :
“Hai Muhammad ! Seorang utusanmu datang kepada kami, dia mengaku kepada kami bahwa engkau mengaku sebagai seorang yang diutus Allah?”
Seorang utusan Rasulullah telah mendatangi mereka sebagai seorang da’i demikianlah umat didatangi. Barangsiapa yang menunggu didatangi umat, maka dia bukanlah seorang da’i. Seandainya anda mau membedah ungkapan seorang Arab desa tadi, niscaya akan tampak jelas bagi anda bagaimana seorang shahabat yang menjadi da’i ini meninggalkan kota Madinah saat diutus Rasul ? Bagaimana dia berpisah dengan keluarga, handai taulan dan anak-anaknya ? Bagaimana dia menempuh satu padang pasir demi satu padang pasir ? Bagaimana dia melintasi banyak bahaya, udara panas dan dingin? Hanya untuk menyampaikan dakwah ?Inilah dakwah yang akan anda gapai sasarannya, sesuatu yang membutuhkan taharruk (gerakan), agresifitas (keterdepanan), pulang dan pergi, percakapan dan pengungkapan, bukan duduk bertopang dagu, serta berangan-angan mencapainya. Pahamilah perjalanan para salafus shaleh kita, teladani mereka, niscaya kita akan mencapainya. Jika tidak, berasyik-asyiklah di tempat kita, pasti kita akan gagal tanpa hasil nyata dan mulia.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata “ Menyampaikan sunnah Nabi kepada umat lebih utama daripada melemparkan anak panah ke leher-leher musuh, karena mengirimkan anak panah dapat dilakukan oleh mayoritas manusia, sedangkan menyampaikan sunnah beliau tidak dapat ditunaikan kecuali oleh para pewaris nabi dan khalifah umat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karamah dan nikmat-Nya”
Ibrahim bin As’ats berkata : “ Dahulu, setiap kali kami keluar bersama Al Fudhail bin ‘Iyadh mengantar jenazah, beliau tidak henti-hentinya memberikan nasehat, mengingatkan dan menangis, sampai seakan-akan dia mau berpisah dengan para shahabatnya menuju akhirat hingga sampai ke pekuburan, beliau duduk seakan-akan berada di tengah mayit, berduka dan menangis sampai beliau berdiri, seakan-akan beliau baru kembali dari akhirat memberitahukan kejadian di sana”.
Syuja’ bin Walid berkata : “Dahulu, aku keluar bersama Sufyan Ats Tsauri. Di mana waktu pulang pergi lisan beliau tidak pernah lelah untuk ma’ruf nahi mungkar”.
Az Zuhri sendiri tidak merasa cukup mentarbiyah generasi penerus dan mencetak para imam hadits, bahkan beliau keluar terjun langsung ke desa-desa Arab untuk mengajarkan manusia.
Seorang ahli fiqh dan penasehat, Ahmad Al Ghazali (saudara kandung dari Al Ghazali rahimahullah) masuk ke kampung-kampung dan pelosok-pelosok untuk memberikan nasehat kepada penduduk sebagai taqarrubnya kepada Allah.
Taharruk (bergerak) untuk agama serta mengerahkan kemampuan secara maksimal dalam berdakwah ilallah, menegakkan syariat Allah dan meninggikan kalimat-Nya di muka bumi wajib menjadi unsur asasi di dalam rajutan-rajutan iman setiap muslim. Sehingga di setiap waktunya, diapun menghisab diri bertanya : apa yang telah aku khidmatkan untuk agama Allah ? Gelisah di pembaringan tanpa henti, tidak asyik dalam dengkuran tidurnya, tidak nikmat dalam kemilau hidupnya. Berita-berita kaum muslimin membuatnya senang dan sedih. Dia terus berpikir untuk menjalani sampainya kebenaran kepada setiap makhluk, khawatir lalai tidak sempurna. Dia tidak hanya berpikir untuk tetangganya saja, kawannya saja atau karib kerabatnya saja. Dia berpikir untuk seluruh penduduk belahan bumi manapun, bagaimana dia memasukkannya ke dalam Islam.
Alangkah banyaknya kelalaian yang kita ciptakan, jika bukan karena takut mungkin lemah. Kita meminta ampun dan bertaubat kepada Allah atas kelalaian yang kita perbuat. Sudah waktunya untuk kita katakan semaksimal yang kita mampu, sebagai kaffarat (penghapus) kekeliruan masa lalu dan dosa-dosa yang telah terlewat. Tidak lain kecuali, mengharap kemaafan Allah dan rahmat-Nya. Umur berlalu dengan cepat dan kehidupan hampir mencapai finishnya. Ya, memang sudah waktunya mengungkapkan seluruh kondisi kaum muslimin dan membela Islam semaksimal mungkin dengan ungkapan tegas, kalimat jelas dan amal yang lugas. Kita tak perlu takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. Semua terjadi menurut batas yang diizinkan Allah kepada kita, bahkan Dia mewajibkan kita untuk mengatakannya dengan hidayah kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya.
Neger-negeri yang ada di belahan dunia Islam telah terperosok dalam jurang yang dalam tanpa tepi, jurang kekafiran, kebebasan dan kehancuran. Jika kita tidak berdiri menjadi nadzir (pengingat kewaspadaan), atau tidak mengawasi mereka dari api jahannam, tentu kita pun ikut terperosok bersama mereka, tertimpa berbagai bencana seperti mereka, serta dosa berlipat yang akan kita terima.
Jihad adalah berlelah – lelah mengerahkan segala kemampuan dan kepemilikan secara maksimal dalam menjadikan kalimat Alloh sebagai kedaulatan tertinggi dalam kehidupan manusia secara kaffah dengan berbagai marhalah yang harus ditempuhnya..
Marhalah jihad bisa dalam bentuk da`wah dan tarbiyyah, baik sirri maupun jahri bahkan bisa pula dalam bentuk qital atau pertempuran fisik, semua harus mengikuti syarat-syarat hukum taklifi dan wad`inya.
Saudaraku..
Jihad adalah syari`at Alloh Swt yang merupakan bagian penting dari manifestasi aqidah Iman dalam wujud wala wal baro.
Alangkah besar dan agungnya faedah yang akan kita raih dalam menempuh syari`at yang agung ini, di antaranya :
1. Dengan Jihad, nyatalah siapa yang jujur dalam cintanya dan siapa yang berdusta. Dengan jihad, terbuktilah penghambaan diri seorang manusia kepada Alloh swt.
2. Dengan jihad, tegak dan tersebar luaslah tauhid dan syari`at Islam.
Alloh Swt berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (yaitu) beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwa kalian, itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalain ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kalian) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kalian sukai (yaitu) pertolongan dari Alloh dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (QS. Ash shof [61]:10-13)
3. Dengan Jihad, kita akan terhindar dari adzab Aloh dan murkaNya di dunia dan di akhirat. Sehingga kaum muslimin hidup di bawah naungan kehidupan yang thoyyibah dan azizah bersih dari kerendahan kekafiran dan orang-orang kafir.
Rosululloh saw bersabda :
“Jika manusia sudah tergantung pada Dinar dan Dirham, berjual beli `inah (bisnis riba), mengikuti ekor-ekor kerbau serta meninggalkan jihad fi sabilllah, niscaya Alloh akan menurunkan balanya dan tidak akan diangkatNya sampai mereka kembali kepada agama mereka”. (Hr. Abu Daud : 3462, Ahmad : 2/27 dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Shohih Sunan Abi Daud : 2956)
4. Para pejuang di medan jihad merupakan manusia paling lurus hidayah kebenarannya dan paling bahagia.
Alloh Swt berfirman :
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al `Ankabut [29]:69)
Dan orang-orang yang gugur pada jalan Alloh, Alloh tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Alloh akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka. (QS. Muhammad [47]:4-5)
5. Jihad merupakan sarana terbesar untuk mentarbiyah jiwa dan mentazkiyahnya, baik dzohir maupun bathin.
Alloh Swt berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang mutad dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 5:54)
Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Alloh). (QS. 5:55)
Dan barangsiapa mengambil Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Alloh itulah yang pasti menang. (QS. 5:56)
6. Dengan jihad, shof kaum muslimin akan diperteguh dan disatukan dalam bendera kemuliaan.
7. Untuk di akhirat saudaraku, cukuplah kita renungkan bagaimana Alloh Swt bercerita tentang apa yang akan mereka terima :
Alloh Swt berfirman :
Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Robbnya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada mereka. dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Alloh, dan bahwa Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.(Yaitu) orang-orang yang menta’ati perintah Alloh dan Rosul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertaqwa ada pahala yang besar. (QS. 3:169-172)
Semoga kita semua dijadikan Alloh Swt sebagai bagian dari pada Rabbaniyyun Mujahidun fi Sabilillah.. Amiiin.
AAS (10-10-08)
Ketidaktaatan yang kita maksudkan disini adalah pada hal-hal yang ma’ruf. Ketidaktaatan seperti ini banyak disebabkan karena kemalasan atau ketidakpuasan atau ketidaksetujuan atau kesombongan dan lain-lainnya. Semua itu bisa diterima sebagai suatu alasan untuk suatu pembangkangan.
Pada masalah ketaatan inilah seorang anggota diuji keikhlasannya dalam berdakwah. Apakah keikhlasannya benar-benar demi Allah, sehingga dia bersedia menekan semua perasaannya dan menjaga lisannya baik-baik demi kesuksesan amal yang diniatkan demi Allah semata? Atau apakah di hanya ikhlas kepad dirinya sendiri,melaksanakan perintah karena dirinya setuju dan memabngkang ketik ahal itu tidak sejalan dengan pemikirannya.
Bagi mereka yang ingin memuaskan diri sendiri, sudah barang tentu ketaatan adalah sesuatu yang berat sekali. Berbeda halnya dengan seorang yang ikhlas karena Allah hanya ridha-Nya semata. Seorang yang mukhlis akan menganggap dirinya adalah seorang prajurit Allah dan jama’ahnya adalah satu divisi dari divisi-divisi tentara Allah yang banyak. Sekali lagi ketaatan yang diminta sebuah jama’ah Islamiyyah dari seorang anggota hanyalah ketaatan pada hal-hal yang tidak ada kemaksiatan kepadanya dan hanya sebatas hal-hal yang berhubungan dengan misi serta amal dari jama’ah.
Kita dapati pada salah satu hadits Rasulullah saw mengenai imarah kubra, Beliau bersabda :
“Barangsiapa yang mendapatkan pada amirnya apa-apa yang dibencinya, maka bersabarlah. Sesungguhnya orang yang keluar dari ketaatan amir lalu mati, maka kematiannya adalah kematian jahiliyyah” (HR…..)
Dari hadits ini kita dapati betapa pentingnya suatu ketaatan dalam bentuk persatuan. Kita dapati pula bahwa pemecahan untuk gejolak jiwa ketika seseorang sedang melaksanakan ketaatan adalah kesabaran yaitu menekan semua panggilan pembangkangan.
Tindakan ini tidak mendapat celaan dari siapa pun di kalangan para shahabat. Rasulullah saw sendiri telah mengkhabarkan masuknya Ja’far bin Abi Thalib ke syurga dengan mempunyai dua sayap. Kalau demikian halnya dengan secarik kain pemersatu, bagaimanakah hal seorang manusia pemimpin yang berperan sebagai pemersatu.
Seorang pemimpin tidak mungkin melaksanakan peranannya dengan sebaik-baiknya, kecuali kalau benar-benar dia tempatkan sebagai seorang pemimpin. Banyak pemimpin yang dituntut oleh orang-orang yang dipimpinnya untuk menjadi pengikut, bukan menjadi pemimpin. Mereka mengharuskan sang pemimpin mengikuti suara terbanyak, sehingga suara terbanyaklah pemimpin yang sebenarnya dan sang pemimpin hanya menjadi koordinator. Walaupun secara sekilas hal itu bisa diterima, akan tetapi hasilnya akan buruk sekali. Di antara keburukannya adalah kehilangan unsur kecepatan dalammengambil keputusan dan bisa mengakibatkan terbentuknya fraksi-fraksi di dalam tubuh jama’ah. Seorang anggota harus tetap patuh kepada pimpinannya walaupun sang pemimpin tidak pandai bermusyawarah. Penilaian tentang kepandaian ini pun relatif. Karena kepatuhan jauh lebih penting dari syura itu sendiri disamping seorang pemimpin harus bisa melakukan syura dengan baik, tetapi jangan sampai syura menjadikannya sebagai seorang koordinator saja. Seorang pemimpin harus mengetahui dengan jelas hal-hal mana yang harus disyurakan dan hal-hal mana yang memerlukan kecepatan pengambilan keputusan. Setelah bersyura, dia berhak untuk mengikuti suara terbanyak atau mengikuti lainnya.
Ketika seorang pemimpin tidak pandai dalam menjalankan syura, tidak ragu lagi hal ini merupakan suatu kerugian bagi jama’ah. Tetapi kerugian pembangkangan atau kerugian kehilangan kepemimpinan akibat over syura akan jauh lebih besar lagi kerugiannya.
- Kita tidak menjadikan atau memposisikan pendapat kita setingkat dengan wahyu, yang tidak ada kompromi padanya.
- Kita menyadari bahwa pendapat kita tidaklah ma’shum. Orang yang secara atau tidak sadar memandang bahwa pendapatnya pasti benar, adalah orang yang memandang bahwa pendapatnya adalah ma’shum. Orang demikian seakan-akan mengaku bahwa dia mengetahui yang ghaib. Kalau hal ini benar-benar kita sadari, maka akan kita sadari pula bahwa pendapat kita benar tetapi mungkin pendapat orang lain mungkin juga benar. Dengan demikain kita akan mempertahankan pendapat kita tanpa batas, sampai-sampai persatuan dan persaudaraan kita pertaruhkan.
- Sebagai da’i Islam pada khususnya dan sebagai seorang muslim pada umumnya, kita harus menjadi seorang yang mukhlis kepada Allah saja. Tetapi ketika kita mukhlis juga pada diri kita (suatu kesyirikan), maka kita siap mengorbankan persatuan kita (yang merupakan suatu peribadatan kita kepada Allah) asal saja pendapat kita termenangkan. Seorang yang mukhlis kepada dirinya pun, siap mengisi hatinya dengan kebencian dan kedengkian terhadap saudara-saudaranya ketika pendapatnya tersisihkan. Sedangkan orang yang mukhlis kepada Allah akan bersih hatinya atau berusaha membersihkan hatinya walaupun pendapatnya selalu tersisihkan. Sebab seorang mukhlis kepada Allah akan menyadari bahwa pendapat adalah suatu itjihad.. Sebuah itjihad yang mukhlis, akan diberi ganjaran oleh Allah, baik itjihad itu diterima oleh manusia maupun tidak. Dia pun menyadari bahkan jika itjihadnya diterima oleh saudara-saudaranya, maka resiko buruk dari itjihad itu masih mungkin terwujud. Sedangkan kalau itjihad itu ditolak maka ia akan mendapat pahalanya tanpa suatu resiko apapun.
- Dibanding da’i-dai kufur, kita sebagai da’i Islam sebenarnya harus lebih jauh dan jauh lebih sensitif atas pentingnya persatuan dan buruk serta berbahayanya perpecahan. Sebab semua itu adalah amal shaleh lillahi dan kebalikannya akan menjadi pertanggungjawaban yang besar kelak di hadapan Allah. Dalam pandangan kita, kehancuran barisan perjuangan jauh lebih besar daripada kehancuran rumah tangga kita masing-masing. Maukah kita melihat kehancuran rumah tangga sebagai hukuman duniawi dari Allah, karena kita sudah menjadi salah seorang penyebab kehancuran barisan perjuangan.
Dari semua itu kita harus lebih pandai untuk tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai pemecah barisan. Harus lebih pandai dalam saling mengalah dan harus lebih pandai dalam berikhlash.
Kalau da’i-dai kufur mampu mencegah perpecahan di partai-partai mereka, sedangkan perbedaan pendapat di kalangan mereka jauh lebih banyak dan mereka tidak mempunyai pandangan imaniyyah, maka ketidakmampuan kita untuk lebih mampu dari mereka, akan merupakan pertanda dari kepicikan akal dan kelemahan iman kita.
Memang benar, bahwa suatu aturan main yang bagus akan banyak mengurangi friksi-friksi antar ikhwah. Tetapi jaminan terbesar dan terkuat adalah kekokohan kita dan pengertian kita tentang hubungan antara iman itu dan amal jama’i kita. Aturan main yang baik tidak bisa dihasilkan hanya oleh sebuah renungan. Tetapi aturan itu akan dilahirkan oleh perkawinan antara waktu dan pengalaman kita beramal jama’i. Aturan itu akan tumbuh sedikit demi sedikit, menuju ketitik kesempurnaan. Harus kita dan mengerti benar-benar bahwa hal-hal yang kita jelaskan tadi adalah dasar dan bagian terbesar dari aturan main itu sendiri.
Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.
Sedangkan kebudayaan yang merupakan unsur pengikat bagi suatu masyarakat memiliki 3 ma`na :
1. Hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.
2. Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
3. Hasil akal budi dari alam sekelilingnya dan dipergunakan bagi kesejahteraan hidupnya.
Jika kita lebih mendalam mengkaji kembali Kitabulloh, maka kita dapati bahwa masyarakat dengan ma`na di atas disebutkan dengan kata ummah.
Ma`na ummah mencakup empat unsur pokok :
1. Thoifah (Sejumlah manusia)
Alloh swt berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً ...
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (komunitas manusia)… ", (QS. An Nahl (16): 36)
2. Zaman (masa tertentu)
وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ
Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada) Yusuf sesudah beberapa waktu lamanya (QS. Yusuf (12): 45)
3. Imam (pemimpin)
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam …(QS. An Nahl (16): 120)
4. Millah (agama)
وَكَذَلِكَ مَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلاَّ قَالَ مُتْرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِم مُّقْتَدُونَ
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama ". (QS. Az Zukhruf (43): 23) [Selebihnya...]
Oleh sebab itu, Ummah – menurut Ar Roghib Al Isfahani – berarti :
كُلُّ جَمَاعَةٍ يَجْمَعُهُمْ أَمْرٌمَا إِمَّا دِيْنٌ وَاحِدٌ أَوْزَمَانٌ وَاحِدٌ أَوْمَكَانٌ وَاحِدٌ سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ الأَمْرُ الْجَامِعُ تَسْخِيْراً أَوْاخْتِيَاراً
“Setiap jama`ah (sejumlah orang tertentu) yang terikat oleh sesuatu, baik oleh satu agama, satu masa atau satu tempat, baik ikatannya bersifat proses alamiyah maupun proses upaya manusia”.
Begitulah manusia sejak awwal merupakan makhluk yang hidup dalam ummah (suatu masyarakat) yang diikat oleh ikatan tertentu. Perbedaannya adalah bahwa apa yang disebutkan oleh banyak orang sebagai budaya sebagai pengikat suatu masyarakat, disebutkan oleh Al Qur`an sebagai agama, karena tidak ada satu budayapun yang lahir tanpa asas agama sebagai prinsip lahirnya. Alloh swt menyebutkan bahwa pada awalnya manusia berada dalam satu masyarakat yang hanya diikat oleh satu agama, yaitu Islam atau tauhid dimana seluruh kebudayaannya adalah kebudayaan yang mengabdi hanya kepada Alloh swt.
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلاَّ الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَاجَآءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللهُ يَهْدِي مَن يَشَآءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Manusia itu adalah ummat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al Baqarah (2): 213)
Ibnu Abbas rda berkata :
كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوْحٍ عَشْرَةُ قُرُوْنٍ كُلُّهُمْ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِنَ الْحَقِّ فَاخْتَلَفُوا فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ
“Di antara Adam dan Nuh terdapat 10 kurun yang kesemuanya berada di atas syari`at yang hak, kemudian mereka berselisih syari`ah. Maka oleh karena itu, Alloh mengutus para Nabi sebagai pembawa berita gembira dan pembawa berita ancaman”.
Akan tetapi setelah itu terjadilah perubahan besar jiwa dan asas yang mengikat masyarakat, dari ikatan Islam dan tauhid berpaling ke arah ikatan Jahiliyyah dan syirik. Hal tersebut dimulai dari masa masyarakat nabi Nuh `As. Alloh swt menceritakan hal ini dalam firmanNya :
Nuh berkata:"Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, Dan melakukan tipu-daya yang amat besar". Dan mereka berkata:"Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr", Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. Nuh berkata:"Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat kafir. Ya Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan". (QS. Nuh (71): 21-28)
Ibnu `Abbas rda berkata ketika mentafsirkan ayat di atas :
أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ
“Semua ini adalah nama para tokoh yang sholih di kalangan kaum Nabi Nuh `as. Tatkala mereka telah mati, syaithon memberikan wahyu kepada kaum mereka ‘hendaklah kalian mendirikan patung–patung sebagai monument di tempat–tempat perkumpulan kalian dan namailah dengan nama-nama mereka, lalu merekapun melakukannya. Akan tetapi pada saat itu belum disembah, sampai di saat mereka mati dan ilmu (agama pun) dilupakan, saat itulah patung-patung tersebut disembah”.
Peristiwa ini tidak terlepas dari proses permusuhan makhluk terla`nat, yaitu Iblis yang dengan kesombongan dan keangkuhannya hendak mewujudkan kerajaan besar pada dirinya yang hendak mencabut dan menghancurkan akar ikatan manusia dengan keraajaan Alloh swt.
Alloh swt menceritakan Iblis dalam firmanNya :
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat:"Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman:"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu". Menjawab iblis:"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman:"Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". Iblis menjawab:"Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman:"Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh". Iblis menjawab:"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at). Allah berfirman, "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semua". (QS. Al A'raaf (7):11-18)
Bahkan Rosululloh saw menceritakan secara gamblang seluruh usaha Iblis dalam memalingkan manusia dari kerajaan Alloh swt.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ قَالَ الْأَعْمَشُ أُرَاهُ قَالَ فَيَلْتَزِمُهُ. ( رواه مسلم، 2813 في صفة إبليس وجنوده، باب تحريق الشيطان).
Dari Jabir –rda- berkata, Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya syetan meletakkan 'arsy (kerajaan) nya di atas air, kemudian mengutus …. Salah seorang dari mereka melapor telah menurunkan fitnah yang besar dengan melakukan hal seperti ini dan seperti ini, kemudian sang raja syetan berkata, 'Tidak ada sesuatu pun yang telah engkau kerjakan. Berkata salah seorang jin, 'Saya telah mendatangi seorang suami dan saya tidak meninggalkannya sampai saya telah memisahkan dia dengan istrinya…
Dari Jabir rda berkata :
عَنْ سَبْرَةَ بْنِ أَبِي فَاكِهٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ تُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَآبَاءِ أَبِيكَ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ تُهَاجِرُ وَتَدَعُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ وَإِنَّمَا مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطِّوَلِ فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ فَقَالَ تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسَمُ الْمَالُ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ وَقَصَتْهُ دَابَّتُهُ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ
Untuk itulah, dengan rahman dan rahim Alloh, Dia mengutus para rasul (utusan)nya untuk membawa misi Islam dan tauhid tersebut kepada setiap ummah (masyarakat). Tidak ada satu ummahpun yang luput dari pengiriman para rasul dengan misi mulianya tersebut.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl (16): 36)
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَآءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. (QS. Yunus (10): 47)
كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَآ أُمَمٌ لِّتَتْلُوا عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَانِ قُلْ هُوَ رَبِّي لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ
Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (al-Qur'an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir terhadap Rabb Yang Maha Pemurah.Katakanlah:"Dialah Rabbku tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat". (QS. Ar Ra'ad (13): 30)
Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa masyarakat di dunia ini menurut pandangan Kitabulloh hanya memiliki dua ikatan, yaitu masyarakat yang diikat oleh ajaran, system, hukum, tata nilai dan budaya dari para rasul, yaitu Islam dan tauhid atau masyarakat yang diikat oleh ajaran, system, hukum, tata nilai dan budaya yang bukan dari para rasul, yaitu jahiliyyah dan syirik. Bahkan Alloh swt menyebutkan bahwa semua ikatan selain yang berasal dari para rasul itu sebagai ikatan syaithon.
أَلَمْ تَرَإلِىَ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَآأُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآأُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحاَكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An Nisa' (4): 60)
Inilah asas yang dijadikan landasan oleh para fuqoha ketika membagi suatu teritorial dari suatu wujud masyarakat menjadi dua teritorial yaitu Darul Islam dan Darul Kufur.
Ma`na dar lebih menunjukkan pada adanya batas teritorial keberadaan suatu masyarakat. Apakah dar tersebut Islami atau jahili sangat tergantung pada apakah dar tersebut didaulati atau dikuasai oleh masyarakat Islami atau oleh masyarakat jahili.
Untuk itu para fuqoha menyebutkan unsur-unsur pembeda dari kedua dar tersebut :
1. Darul Islam yaitu teritorial yang dikuasai oleh masyarakat Islam, ciri utamanya adalah :
a. Pemimpinnya adalah salah seorang kaum mu`minin
b. Dien Islam tamkin (menjadi kedaulatan hukum).
c. rasa aman bagi kaum mu`minin.
2. Darul Kufur yaitu teritorial yang dikuasai oleh masyarakat jahili, ciri utamanya adalah :
a. Pemimpinnya bukan salah seorang kaum mu`minin
b. Dien Islam tidak tamkin
c. Hilangnya rasa aman kaum mu`minin
Ibnu `Abidin berkata :
اَلْمُرَادُ بِالدَّارِ اَلإِقْلِيْمُ الْمُخْتَصُّ بِقَهْرِ مُلْكِ إِسْلاَمٍ أَوْ كُفْرٍ
“Yang dimaksud dengan dar adalah teritorial tertentu dengan kedaulatan kerajaan Islam atau kufur”.
As Sarkhosi berkata :
إِنَّ الدَّارَ إِنَّمَا تُنْسَبُ إِلَيْنَا أَوْ إِلَيْهِمْ بِاعْتِبَارِِ الْقُوَّةِ وَالْغَلَبَةِ
“Dar dihubungkan untuk kita (Islami) atau untuk mereka (kufri) adalah tergantung pada kekuasaan dan kedaulatannya”.
Al Kasani berkata :
فَإِذَا ظَهَرَتْ أَحْكَامُ الْكُفْرِ فَي دَارٍ فَقَدْ صَارَتْ دَارَ كُفْرٍ
“Jika hukum kufur berdaulat di suatu teritorial, maka jadilah teritorial tersebut darul kufur.”
Abu Ya`la Al Farro Al Hambali berkata :
هِيَ كُلُّ دَارٍ كَانَتِ الْغَلَبَةُ فِيْهَا لأَحْكَامِ الإِسْلاَمِ دُوْنَ أَحْكَامِ الْكُفْرِ
“Darul Islam adalah setiap teritorial dimana di dalamnya kedaulatan berada pada hukum-hukum Islam, bukan hukum-hukum kufur”.
إندونيسيا: دولة إسلامية أو دولة غير إسلامية؟
السؤال الأول من الفتوى رقم (2635)
س: ما الشروط الواجب توفرها في بلد تكون دار حرب أو دار كفر؟
ج: كل بلاد أو ديار يقيم حكامها وذوو السلطان فيها حدود الله ويحكمون رعيتها بشريعة الإسلام، وتستطيع فيها الرعية أن تقوم بما أو جببته الشريعة الإسلامية عليها، فهي دار إسلام، فعلي المسلمين فيها أن يطيعوا حكامها في المعروف، وأن ينصحوا لهم، وأن يكونوا عونا لهم على إقامة شؤون الدولة، ودعمها بها أوتوا من قوة علمية وعملية، ولهم أن يعيشوا فيها، و ألايتحولوا عنها إلا إلى ولاية إسلامية، تكون حالتهم فيها أحسن وأفضل، وذلك كالمدينة بعد هجرة النبي –صم- إليها، وإقامة الدولة الإسلامية فيها، وكمكة بعد الفتح. فإنها صارت بالفتح وتولي المسلمين أمرها دار إسلام بعد أن كانت دار حرب تجب الهجرة منها على من فيها من المسلمين القادرين عليها.
وكل بلاد أو ديار لا يقيم حكامها وذوو السلطان فيها حدود الله ولا يحكون في الرعية بحكم الإسلام، ولا يقوي المسلم فيها على القيام بما وجب عليه من شعائر الإسلام"؛ فهي دار كفر، وذلك مثل مكة المكرمة قبل الفتح؛ فإنها كانت دار كفر، وكذا البلاد التي ينتسب أهلها إلى الإسلام، ويحكم ذوو السلطان فيها يغير ما أنزل الله، ولا يقوي المسلمون فيها على إقام شعائر دينهم، فيجب عليهم شرعا، ومن عجز عن الهجرة منها من الرجال والنساء و الولدان فهو معذور، و على المسلمين في الديار الأخرى أن ينقذوه من ديار الكفر إلى بلاد الإسلام. قال الله تعالى: إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُوْلاَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَآءَتْ مَصِيرًا {97} إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً {98} فَأُوْلاَئِكَ عَسَى اللهُ أَن يَعْفُوَعَنْهُمْ وَكَانَ اللهُ عَفُوًّا غَفُورًا{99}. ( النساء: 97-99).
وقال تعالى: وَمَالَكُمْ لاَتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا {75}. ( النساء: 75) أما من قوي من أهلها على إقامة شعائر دينه فيها، وتكمن من إقامة الحجة على الحكام و ذوي السلطان، و أن يصلح من أمرهم ويعدل من سيرتهم، فيشرع له البقاء بين أظهرهم؛ لما يرجي من إقامته بينهم من البلاغ والاصلاح مع سلامته من الفتن.
و بالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو عضو نائب رئيس اللجنة الرئيس
عبد الله بن قعود عبد الله بن غديان عبد الرزاق عفيفي عبد العزيز بن عبد الله بن باز
(فتاوي اللجنة الدائمة اللبحوث العلمية والإفتاء جمع وترتيب: الشيخ أحمد بن عبد الرزاق الدويش: 12/52-53)
"و كل دولة لا تحكم بشرع الله ولا تنقاد لحكم الله فهي دولة جاهلية كافرة طالمة فاسقة بنص هذه الآيات المحكمات، يجب على أهل الإسلام بغضها و معاداتها في الله وتحرم عليهم مودتها و موالاتها حتى تؤمن بالله وحدة وتحكم شريعته."
( مجموع فتاوى و مقالات الشيخ عبد العزيز ين عبد الله بن باز (نقد الومية العربية):1/309.)
( وقفات تربوية في ضوء القرآن الكريم لعبد العزيز بن ناصر الجليل: 3/151.)
"و بلد الشرك هو الذي تقام فيها شعائر الكفر و لا تقام فيه شعائر الإسلام كالأذان والصلاة جماعة و الأعياد و الجمعة على وجه عام شامل. وإنما قلنا على وجه عام شامل ليخرج ما تقام فيه هذه الشعائر على وجه محصور كبلاد الكفار التي فيها أقليات مسملة فإنها لا تكون بلاد إسلام بما تقيمه الأقليات المسلمة فيها من شعائر الإسلام. أما بلاد الإسلام فهي البلاد التي تقام فيها هذه الشعائر على وجه عام شامل"
( شرح ثلاثة الأصول للشيخ محمد بن صالح العثيمين بإعداد فهد بن ناصر إبراهيم السليمان: 129-130)
المطلب الحادي عشر
الغلو فيما يتعلق بالحكم على دار
.....
.....
ويقول ابن القيم: " دار الإسلام: هي التي نزلها المسلمون، وجرت عليها أحكام الإسلام، و ما لم يجر عليه أحكام الإسلام لم يكن دار إسلام وإن لا صقها."
ويقول السرخسي: (( المعتبر في حكم الدار هو السلطان والمنعة في ظهور الحكم))، وعلل ابن حزم هذا بقوله: (( لأن الدار إنما تنسب للغالب عليها والحاكم فيها والمالك لها )).
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka Jakarta Cet ke-2 1989 : 564)
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka Jakarta Cet ke-2 1989 : 131)
Al Mufrodat fi Ghoribil Qur`an. Ar Roghib Al Isfahani, Dar Al Ma`rifah – Beirut, Cet ke-3 tahun 1422 H : 33
Jami` Al Bayan, Ibnu Jarir Ath Thobari : 1/194 serta diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrok : 2 / 546, dia berkata : Shohih menurut syarat Al Bukhori dan keduanya tidak mentakhrijnya serta disepakati oleh Adz Dzahabi dan dishohihkan oleh Ibnu Al Qoyyim dalam Ighotsatul Lahfan : 2 / 620)
Hr. Al Bukhori dalam Shohihnya, Kitab At Tafsir Bab (4920
Hasyiyah Ibnu `Abidin : 4/166
Al Mabsuth : 10/114
Badai`u Ash Shonai`I : 9/4375
Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.
Sedangkan kebudayaan yang merupakan unsur pengikat bagi suatu masyarakat memiliki 3 ma`na :
1. Hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.
2. Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
3. Hasil akal budi dari alam sekelilingnya dan dipergunakan bagi kesejahteraan hidupnya.
Jika kita lebih mendalam mengkaji kembali Kitabulloh, maka kita dapati bahwa masyarakat dengan ma`na di atas disebutkan dengan kata ummah.
Ma`na ummah mencakup empat unsur pokok :
1. Thoifah (Sejumlah manusia)
Alloh swt berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً ...
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (komunitas manusia)… ", (QS. An Nahl (16): 36)
2. Zaman (masa tertentu)
وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ
Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada) Yusuf sesudah beberapa waktu lamanya (QS. Yusuf (12): 45)
3. Imam (pemimpin)
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam …(QS. An Nahl (16): 120)
4. Millah (agama)
وَكَذَلِكَ مَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلاَّ قَالَ مُتْرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِم مُّقْتَدُونَ
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama ". (QS. Az Zukhruf (43): 23) [Selebihnya...]
Oleh sebab itu, Ummah – menurut Ar Roghib Al Isfahani – berarti :
كُلُّ جَمَاعَةٍ يَجْمَعُهُمْ أَمْرٌمَا إِمَّا دِيْنٌ وَاحِدٌ أَوْزَمَانٌ وَاحِدٌ أَوْمَكَانٌ وَاحِدٌ سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ الأَمْرُ الْجَامِعُ تَسْخِيْراً أَوْاخْتِيَاراً
“Setiap jama`ah (sejumlah orang tertentu) yang terikat oleh sesuatu, baik oleh satu agama, satu masa atau satu tempat, baik ikatannya bersifat proses alamiyah maupun proses upaya manusia”.
Begitulah manusia sejak awwal merupakan makhluk yang hidup dalam ummah (suatu masyarakat) yang diikat oleh ikatan tertentu. Perbedaannya adalah bahwa apa yang disebutkan oleh banyak orang sebagai budaya sebagai pengikat suatu masyarakat, disebutkan oleh Al Qur`an sebagai agama, karena tidak ada satu budayapun yang lahir tanpa asas agama sebagai prinsip lahirnya. Alloh swt menyebutkan bahwa pada awalnya manusia berada dalam satu masyarakat yang hanya diikat oleh satu agama, yaitu Islam atau tauhid dimana seluruh kebudayaannya adalah kebudayaan yang mengabdi hanya kepada Alloh swt.
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلاَّ الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَاجَآءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللهُ يَهْدِي مَن يَشَآءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Manusia itu adalah ummat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al Baqarah (2): 213)
Ibnu Abbas rda berkata :
كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوْحٍ عَشْرَةُ قُرُوْنٍ كُلُّهُمْ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِنَ الْحَقِّ فَاخْتَلَفُوا فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ
“Di antara Adam dan Nuh terdapat 10 kurun yang kesemuanya berada di atas syari`at yang hak, kemudian mereka berselisih syari`ah. Maka oleh karena itu, Alloh mengutus para Nabi sebagai pembawa berita gembira dan pembawa berita ancaman”.
Akan tetapi setelah itu terjadilah perubahan besar jiwa dan asas yang mengikat masyarakat, dari ikatan Islam dan tauhid berpaling ke arah ikatan Jahiliyyah dan syirik. Hal tersebut dimulai dari masa masyarakat nabi Nuh `As. Alloh swt menceritakan hal ini dalam firmanNya :
Nuh berkata:"Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, Dan melakukan tipu-daya yang amat besar". Dan mereka berkata:"Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr", Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. Nuh berkata:"Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat kafir. Ya Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan". (QS. Nuh (71): 21-28)
Ibnu `Abbas rda berkata ketika mentafsirkan ayat di atas :
أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ
“Semua ini adalah nama para tokoh yang sholih di kalangan kaum Nabi Nuh `as. Tatkala mereka telah mati, syaithon memberikan wahyu kepada kaum mereka ‘hendaklah kalian mendirikan patung–patung sebagai monument di tempat–tempat perkumpulan kalian dan namailah dengan nama-nama mereka, lalu merekapun melakukannya. Akan tetapi pada saat itu belum disembah, sampai di saat mereka mati dan ilmu (agama pun) dilupakan, saat itulah patung-patung tersebut disembah”.
Peristiwa ini tidak terlepas dari proses permusuhan makhluk terla`nat, yaitu Iblis yang dengan kesombongan dan keangkuhannya hendak mewujudkan kerajaan besar pada dirinya yang hendak mencabut dan menghancurkan akar ikatan manusia dengan keraajaan Alloh swt.
Alloh swt menceritakan Iblis dalam firmanNya :
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat:"Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman:"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu". Menjawab iblis:"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman:"Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". Iblis menjawab:"Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman:"Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh". Iblis menjawab:"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at). Allah berfirman, "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semua". (QS. Al A'raaf (7):11-18)
Bahkan Rosululloh saw menceritakan secara gamblang seluruh usaha Iblis dalam memalingkan manusia dari kerajaan Alloh swt.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ قَالَ الْأَعْمَشُ أُرَاهُ قَالَ فَيَلْتَزِمُهُ. ( رواه مسلم، 2813 في صفة إبليس وجنوده، باب تحريق الشيطان).
Dari Jabir –rda- berkata, Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya syetan meletakkan 'arsy (kerajaan) nya di atas air, kemudian mengutus …. Salah seorang dari mereka melapor telah menurunkan fitnah yang besar dengan melakukan hal seperti ini dan seperti ini, kemudian sang raja syetan berkata, 'Tidak ada sesuatu pun yang telah engkau kerjakan. Berkata salah seorang jin, 'Saya telah mendatangi seorang suami dan saya tidak meninggalkannya sampai saya telah memisahkan dia dengan istrinya…
Dari Jabir rda berkata :
عَنْ سَبْرَةَ بْنِ أَبِي فَاكِهٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ تُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَآبَاءِ أَبِيكَ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ تُهَاجِرُ وَتَدَعُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ وَإِنَّمَا مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطِّوَلِ فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ فَقَالَ تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسَمُ الْمَالُ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ وَقَصَتْهُ دَابَّتُهُ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ
Untuk itulah, dengan rahman dan rahim Alloh, Dia mengutus para rasul (utusan)nya untuk membawa misi Islam dan tauhid tersebut kepada setiap ummah (masyarakat). Tidak ada satu ummahpun yang luput dari pengiriman para rasul dengan misi mulianya tersebut.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl (16): 36)
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَآءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. (QS. Yunus (10): 47)
كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَآ أُمَمٌ لِّتَتْلُوا عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَانِ قُلْ هُوَ رَبِّي لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ
Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (al-Qur'an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir terhadap Rabb Yang Maha Pemurah.Katakanlah:"Dialah Rabbku tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat". (QS. Ar Ra'ad (13): 30)
Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa masyarakat di dunia ini menurut pandangan Kitabulloh hanya memiliki dua ikatan, yaitu masyarakat yang diikat oleh ajaran, system, hukum, tata nilai dan budaya dari para rasul, yaitu Islam dan tauhid atau masyarakat yang diikat oleh ajaran, system, hukum, tata nilai dan budaya yang bukan dari para rasul, yaitu jahiliyyah dan syirik. Bahkan Alloh swt menyebutkan bahwa semua ikatan selain yang berasal dari para rasul itu sebagai ikatan syaithon.
أَلَمْ تَرَإلِىَ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَآأُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآأُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحاَكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An Nisa' (4): 60)
Inilah asas yang dijadikan landasan oleh para fuqoha ketika membagi suatu teritorial dari suatu wujud masyarakat menjadi dua teritorial yaitu Darul Islam dan Darul Kufur.
Ma`na dar lebih menunjukkan pada adanya batas teritorial keberadaan suatu masyarakat. Apakah dar tersebut Islami atau jahili sangat tergantung pada apakah dar tersebut didaulati atau dikuasai oleh masyarakat Islami atau oleh masyarakat jahili.
Untuk itu para fuqoha menyebutkan unsur-unsur pembeda dari kedua dar tersebut :
1. Darul Islam yaitu teritorial yang dikuasai oleh masyarakat Islam, ciri utamanya adalah :
a. Pemimpinnya adalah salah seorang kaum mu`minin
b. Dien Islam tamkin (menjadi kedaulatan hukum).
c. rasa aman bagi kaum mu`minin.
2. Darul Kufur yaitu teritorial yang dikuasai oleh masyarakat jahili, ciri utamanya adalah :
a. Pemimpinnya bukan salah seorang kaum mu`minin
b. Dien Islam tidak tamkin
c. Hilangnya rasa aman kaum mu`minin
Ibnu `Abidin berkata :
اَلْمُرَادُ بِالدَّارِ اَلإِقْلِيْمُ الْمُخْتَصُّ بِقَهْرِ مُلْكِ إِسْلاَمٍ أَوْ كُفْرٍ
“Yang dimaksud dengan dar adalah teritorial tertentu dengan kedaulatan kerajaan Islam atau kufur”.
As Sarkhosi berkata :
إِنَّ الدَّارَ إِنَّمَا تُنْسَبُ إِلَيْنَا أَوْ إِلَيْهِمْ بِاعْتِبَارِِ الْقُوَّةِ وَالْغَلَبَةِ
“Dar dihubungkan untuk kita (Islami) atau untuk mereka (kufri) adalah tergantung pada kekuasaan dan kedaulatannya”.
Al Kasani berkata :
فَإِذَا ظَهَرَتْ أَحْكَامُ الْكُفْرِ فَي دَارٍ فَقَدْ صَارَتْ دَارَ كُفْرٍ
“Jika hukum kufur berdaulat di suatu teritorial, maka jadilah teritorial tersebut darul kufur.”
Abu Ya`la Al Farro Al Hambali berkata :
هِيَ كُلُّ دَارٍ كَانَتِ الْغَلَبَةُ فِيْهَا لأَحْكَامِ الإِسْلاَمِ دُوْنَ أَحْكَامِ الْكُفْرِ
“Darul Islam adalah setiap teritorial dimana di dalamnya kedaulatan berada pada hukum-hukum Islam, bukan hukum-hukum kufur”.
إندونيسيا: دولة إسلامية أو دولة غير إسلامية؟
السؤال الأول من الفتوى رقم (2635)
س: ما الشروط الواجب توفرها في بلد تكون دار حرب أو دار كفر؟
ج: كل بلاد أو ديار يقيم حكامها وذوو السلطان فيها حدود الله ويحكمون رعيتها بشريعة الإسلام، وتستطيع فيها الرعية أن تقوم بما أو جببته الشريعة الإسلامية عليها، فهي دار إسلام، فعلي المسلمين فيها أن يطيعوا حكامها في المعروف، وأن ينصحوا لهم، وأن يكونوا عونا لهم على إقامة شؤون الدولة، ودعمها بها أوتوا من قوة علمية وعملية، ولهم أن يعيشوا فيها، و ألايتحولوا عنها إلا إلى ولاية إسلامية، تكون حالتهم فيها أحسن وأفضل، وذلك كالمدينة بعد هجرة النبي –صم- إليها، وإقامة الدولة الإسلامية فيها، وكمكة بعد الفتح. فإنها صارت بالفتح وتولي المسلمين أمرها دار إسلام بعد أن كانت دار حرب تجب الهجرة منها على من فيها من المسلمين القادرين عليها.
وكل بلاد أو ديار لا يقيم حكامها وذوو السلطان فيها حدود الله ولا يحكون في الرعية بحكم الإسلام، ولا يقوي المسلم فيها على القيام بما وجب عليه من شعائر الإسلام"؛ فهي دار كفر، وذلك مثل مكة المكرمة قبل الفتح؛ فإنها كانت دار كفر، وكذا البلاد التي ينتسب أهلها إلى الإسلام، ويحكم ذوو السلطان فيها يغير ما أنزل الله، ولا يقوي المسلمون فيها على إقام شعائر دينهم، فيجب عليهم شرعا، ومن عجز عن الهجرة منها من الرجال والنساء و الولدان فهو معذور، و على المسلمين في الديار الأخرى أن ينقذوه من ديار الكفر إلى بلاد الإسلام. قال الله تعالى: إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُوْلاَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَآءَتْ مَصِيرًا {97} إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً {98} فَأُوْلاَئِكَ عَسَى اللهُ أَن يَعْفُوَعَنْهُمْ وَكَانَ اللهُ عَفُوًّا غَفُورًا{99}. ( النساء: 97-99).
وقال تعالى: وَمَالَكُمْ لاَتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا {75}. ( النساء: 75) أما من قوي من أهلها على إقامة شعائر دينه فيها، وتكمن من إقامة الحجة على الحكام و ذوي السلطان، و أن يصلح من أمرهم ويعدل من سيرتهم، فيشرع له البقاء بين أظهرهم؛ لما يرجي من إقامته بينهم من البلاغ والاصلاح مع سلامته من الفتن.
و بالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو عضو نائب رئيس اللجنة الرئيس
عبد الله بن قعود عبد الله بن غديان عبد الرزاق عفيفي عبد العزيز بن عبد الله بن باز
(فتاوي اللجنة الدائمة اللبحوث العلمية والإفتاء جمع وترتيب: الشيخ أحمد بن عبد الرزاق الدويش: 12/52-53)
"و كل دولة لا تحكم بشرع الله ولا تنقاد لحكم الله فهي دولة جاهلية كافرة طالمة فاسقة بنص هذه الآيات المحكمات، يجب على أهل الإسلام بغضها و معاداتها في الله وتحرم عليهم مودتها و موالاتها حتى تؤمن بالله وحدة وتحكم شريعته."
( مجموع فتاوى و مقالات الشيخ عبد العزيز ين عبد الله بن باز (نقد الومية العربية):1/309.)
( وقفات تربوية في ضوء القرآن الكريم لعبد العزيز بن ناصر الجليل: 3/151.)
"و بلد الشرك هو الذي تقام فيها شعائر الكفر و لا تقام فيه شعائر الإسلام كالأذان والصلاة جماعة و الأعياد و الجمعة على وجه عام شامل. وإنما قلنا على وجه عام شامل ليخرج ما تقام فيه هذه الشعائر على وجه محصور كبلاد الكفار التي فيها أقليات مسملة فإنها لا تكون بلاد إسلام بما تقيمه الأقليات المسلمة فيها من شعائر الإسلام. أما بلاد الإسلام فهي البلاد التي تقام فيها هذه الشعائر على وجه عام شامل"
( شرح ثلاثة الأصول للشيخ محمد بن صالح العثيمين بإعداد فهد بن ناصر إبراهيم السليمان: 129-130)
المطلب الحادي عشر
الغلو فيما يتعلق بالحكم على دار
.....
.....
ويقول ابن القيم: " دار الإسلام: هي التي نزلها المسلمون، وجرت عليها أحكام الإسلام، و ما لم يجر عليه أحكام الإسلام لم يكن دار إسلام وإن لا صقها."
ويقول السرخسي: (( المعتبر في حكم الدار هو السلطان والمنعة في ظهور الحكم))، وعلل ابن حزم هذا بقوله: (( لأن الدار إنما تنسب للغالب عليها والحاكم فيها والمالك لها )).
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka Jakarta Cet ke-2 1989 : 564)
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka Jakarta Cet ke-2 1989 : 131)
Al Mufrodat fi Ghoribil Qur`an. Ar Roghib Al Isfahani, Dar Al Ma`rifah – Beirut, Cet ke-3 tahun 1422 H : 33
Jami` Al Bayan, Ibnu Jarir Ath Thobari : 1/194 serta diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrok : 2 / 546, dia berkata : Shohih menurut syarat Al Bukhori dan keduanya tidak mentakhrijnya serta disepakati oleh Adz Dzahabi dan dishohihkan oleh Ibnu Al Qoyyim dalam Ighotsatul Lahfan : 2 / 620)
Hr. Al Bukhori dalam Shohihnya, Kitab At Tafsir Bab (4920
Hasyiyah Ibnu `Abidin : 4/166
Al Mabsuth : 10/114
Badai`u Ash Shonai`I : 9/4375
DI MASA KRISIS
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :
Hai orang-orang yang beriman. Apabila kalian memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kalian.... (Qs. Al Anfal [8] : 45)
Krisis adalah angin kencang yang mengguncang ummat... saatnya mereka melakukan tsabat.
Rasa gentar yang menyelimuti jiwa-jiwa yang lemah menjadikannya seperti seonggok kayu di tengah gelombang samudera.. seperti sehelai daun di tengah terjangan badai angin tak terhingga.
Jiwa-jiwa yang lemah adalah lahan terjadinya pasang surut keimanan serta tempat yang memikat bagi godaan syaithon... Sedangkan keyakinan adalah bagian orang-orang yang beriman.
Wahai para da`i! Saat masa krisis datang menjelang, teriakkanlah dengan suara yang lantang “Wahai hamba-hamba Alloh! Bersikukuh Dirilah Kalian!”.
Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Alloh, supaya kalian beruntung. (Qs. Ali Imron [3] : 200)
Janganlah kalian bersikap lemah, dan jangan (pula) kalian bersedih hati, padahal kalianlah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kalian orang-orang yang beriman. (Qs. Ali Imron [3] : 139)
Di sebuah goa... Di masa krisis hijrah... Berkumpullah tokoh-tokoh kotor bangsa Quraisy melakukan serangan kepada pemimpin ummah... Mengejarnya di gunung-gunung... di goa-goa.. dan di setiap jalan berbukit... Mengutus mata-mata... Menapaki berbagai jejak... sampai pada akhirnya mereka mulai berdiri di atas kepala beliau. Saat itu, Abu Bakar rodiyallohu `anhu memalingkan pandangannya kepada Rosululloh penuh kekhawatiran... Abu Bakar tidak sadar bahwa di dalam gelap gulita kedalaman goa terdapat sosok manusia yang lebih kokoh dari gunung yang di tempatinya.
Abu Bakar rodiyallohu `anhu berkata :
“Dahulu, aku pernah bersama Nabi shellewlohu `alaihi wa sallam berada di sebuah goa. Saat itu aku melihat jejak-jejak kaum musyrikin dan aku berkata : ya Rosululloh, seandainya salah seorang di antara mereka mengangkat kakinya, niscaya dia akan melihat kita! Beliau shellewlohu `alaihi wa sallam bersabda : apa dugaanmu terhadap dua orang yang Alloh adalah pihak yang ketiga?”. [1]
Abu Bakar rodiyallohu `anhu berkata :
“Suroqoh bin Malik terus mengejar kami. Di saat kami sedang berada di padang sahara yang cukup keras, aku berkata : ya Rosululloh, kita akan terkejar. Maka beliau shellewlohu `alaihi wa sallam pun bersabda : jangan berduka, sesungguhnya Alloh bersama kita! Lalu Rosululloh shellewlohu `alaihi wa sallam berdo`a untuk mengalahkan Suroqoh, tiba-tiba kuda yang ditunggangi Suroqoh terjungkil jatuh...” [2]
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Alloh Telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia Berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Alloh beserta kita.” Maka Alloh menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. Dan kalimat Alloh Itulah yang Tinggi. Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. At Taubah [9] : 40)
Di saat perang Yarmuk... Saat kaum Nashrani menyusun kekuatan... Abu Bakar rodiyallohu `anhu mengatakan : Nashrani mencoba mengerahkan was-was syaithon terhadap Kholid bin Walid. Kholid menemui mereka... Saat yang sama pasukan Romawi membawa pasukan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya... 240.000 pasukan berkuda.. Saat itu pasukan kaum muslimin tidak sampai berjumlah 40.000. Tiba-tiba, seorang muslim bergumam kepada Kholid bin Walid “Alangkah banyaknya pasukan romawi itu. Alangkah sedikitnya pasukan kaum muslimin”. Saifulloh (pedang Alloh) inipun mengatakan : “Celaka kamu! Apa yang engkau ucapkan itu buruk.. Apakah engkau mau menakuti aku dengan pasukanRomawi? Sesungguhnya banyak sekali kaum muslimin itu dan alangkah sedikit pasukan Romawi itu. Tentara itu menjadi banyak dengan pertolongan (Alloh) dan menjadi sedikit dengan kehinaan (dosa). Demi Alloh! Aku berharap Al Asyqor (kuda milik Kholid) sembuh dari sakitnya. Sedangkan mereka dilemahkan oleh jumlahnya”. [3]
Merekapun menjadi kokoh, maka Alloh memberikan kekokohan pada mereka... Mereka menolong Alloh, maka Alloh memberikan pertolongan kepada mereka.
Ya… Tsabat berarti mengharuskan kita :
1. Kukuh di medan-medan fitnah :
a. Fitnah harta.
Dan diantara mereka ada orang yang Telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, Pastilah kami akan bersedekah dan Pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). (QS. At Taubah : 75 / 76)
b. Fitnah Kedudukan.
Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Qs. Al Kahfi : 28)
c. Fitnah Keluarga
Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu[1479] Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. At Taghobun : 14)
d. Fitnah Kedzaliman, pembantaian dan ketogutan.
Ÿ
Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit[1567],Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, Ketika mereka duduk di sekitarnya,Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan Karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu. (Qs. Al Buruj : 4 – 9)
e. Fitnah Dajjal.
“Hai manusia! Tidak ada satu fitnah di muka bumi sejak Adam diciptakan yang lebih besar dari pada fitnah Ad Dajjal… Hai Hamba-hamba Alloh… Hai Manusia : Kukuhlah kalian… Sesungguhnya aku akan sifatkan kepada kalian tentang Dajjal yang belum pernah diberikan oleh para nabi sebelumku”. (Hr. Ibnu Majah : 1359 Lihat Shohih Al Jami` : 7752)
2. Kukuh di medan Jihad.
Hai orang-orang yang beriman. Apabila kalian memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kalian.... (Qs. Al Anfal [8] : 45)
3. Kukuh di atas Manhaj
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya),
(Qs. Al Ahzab : 23)
4. Kukuh di saat kematian.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu". (Qs. Fushshilat : 30)
AAS (10 / 01 / 09 )
[1] Hr. Al Bukhori dalam Fadhoil Al Qur`an, nomor (4663) dan Muslim dalam Fadhoil Ash Shohabat, nomor (4389) dari Tsabit Al Bannani : Anas bercerita kepada kami dengan berkata : Abu Bakar bercerita kepadaku tentang itu.
[2] Hr. Al Bukhori dalam kitab Al Manaqib, nomor (3652), Muslim dalam kitab Az Zuhud, nomor (5329) dari Al Barro bin `Azib..., Cerita ini seperti kisah Musa `alaihis salam saat memimpim perjalanan malam hamba-hamba Alloh, lalu Fir`aun hampir berhasil mengejarnya “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul".
Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak dia akan memberi petunjuk kepadaku". (Qs. Asy Syu`aro : 61-62)
[3] Al Bidayah wa An Nihayah, dalam cerita pertempuran Yarmuk. Bagian dari peristiwa di tahun 13 H.
Ahad 4 Dzulqo`dah 1429 H - 2 November 2008 M)
Dewan Pengurus Daerah (DPD)
HASMI - Bogor
Akhir Zaman adalah Akhir kehidupan dunia yang mendekati masa terjadinya hari kiamat. Awal dari akhir zaman itu sendiri adalah diutusnya Rosululloh saw. Hal ini disampaikan langsung oleh Rosululloh saw:
“Aku diutus dan hari kiamat seperti dua ini – beliau menunjukkan dua buah jarinya – “ (Hr. Bukhori : 8/190)
Rosululloh saw menceritakan bahwa akhir zaman ditandai oleh 2 jenis : Jenis yang buruk dan jenis yang menggembirakan..
Di antara tanda-tanda akhir zaman yang buruk adalah :
1. Merebaknya kejahilan (fusyuwwul Jahl) dan sedikitnya ilmu (Qillatul `Ilm).
Berkurangnya ilmu dimulai saat Agama telah disempurnakan oleh Alloh Swt, nikmat Negara dianugerahkan kepada kaum muslimin dan Rosululloh saw pulang ke rahmatulloh, sehingga terus berkurang sampai diangkat secara menyeluruh.
Abu Musa Al Asy`ari dan Ibnu Mas`ud rda berkata : Rosululloh saw bersabda :
“Sesungguh menjelang qiyamat ada hari-hari merebaknya kejahilan, diangkatnya ilmu, banyaknya al harj… Al Harj adalah pembunuhan”. (Hr. Bukhori : 9/87)
Hudzaifah bin Yaman rda berkata : Rosululloh saw bersabda :
“Islam akan terurai seperti terurainya tenunan baju sehingga tidak diketahui lagi apa itu soum, apa itu solat dan apa itu sodaqoh. Islam berjalan atas Kitabulloh di malam hari, akan tetapi tidak ada lagi ada yang tersisa satu ayatpun di wujud dunia. Sekelompok orang-orang sepuh dan tua hanya bisa mengatakan : Kami hanya mendapati bapak-bapak sejak dulu mengenal la ilaaha illalloh, kamipun ucapkan hal itu”. (Silsilah Hadits Shohih : 87)
2. Tersebarnya perzinahan dan merebak hingga menjadi komoditi perdagangan.
Nuwas bin Sam`an rda berkata : Rosululloh saw bersabda :
“Tersisalah manusia-manusia buruk yang melakukan zina seperti Himar melakukan hubungan. Di masa merekalah hari kiamat akan terjadi”. (Hr. Muslim : 8/197)
3. Mendominasinya lagu dengan berbagai jenis musik.
“Akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menganggap halal zina, sutra, khomr dan alat-alat musik”. (Hr. Bukhori)
4. Dihalalkannya khomr serta merebaknya konsumsi khomr di tengah-tengah masyarakat.
5. Merebaknya pembunuhan, kerusuhan dan kekikiran.
Abu Huroiroh rda berkata bahwa Rosululloh saw bersabda :
“Waktu saling berdekatan, ilmu berkurang, kikir tak mau hilang, huru-hara merajalela dan banyak terjadi kerusahan. Para Sohabat bertanya : Ya Rosululloh, kerusuhan apakah itu? Beliau saw menjawab : pembunuhan, pembunuhan”. (Hr. Bukhori : 7061)
6. Terjadinya fitnah agama yang sangat mengerikan serta merebaknya aliran-aliran sempalan perusak agama.
Abu Huroiroh rda berkata bahwa Rosululloh saw bersabda :
“segeralah berbuat sebelum masa fitnah seperti potongan malam yang gelap : Dimana seseorang menjadi mu`min di pagi hari dan kafir di sore hari, mu`min di sore hari serta kafir di pagi hari, menjual agamanya dengan barang dagangan dunia”. (Hr. Muslim : 403 8)
Tanda-tanda Menggembirakan Akhir Zaman :
1. Beribadah pokok di masa fitnah jauh lebih mulia.
2. Islam akan masuk ke seluruh negeri.
3. Kemenangan Islam ditegakkan oleh kaum muslimin dengan dakwah dan jihad fi sabilillah, sampai seluruh makhluk Alloh swt ikut serta mendukungnya.
3. Wujud yang tiada pernah henti toifah manshuroh (Kelompok penegak Islam).
Di dalam hadits yang panjang dikisahkan :
“seorang laki-laki berkata : ya Rosululloh kapankah datangnya kiamat? Maka Jawab Nabi saw : Persiapan apa yang kamu lakukan untuk menghadapinya? Laki-laki itupun diam, lalu berkata : ya Rosululloh, aku tidak mempersiapkannya dengan banyak sholat, soum atau sodaqoh. Akan tetapi aku mencintai Alloh dan RosulNya. Beliau saw bersabda : Kamu akan bersama orang yang kamu cintai”. (Hr. Muslim : 160)
Rosululloh saw bersabda :
“Sudahkah kalian mendengar sebuah kota, yang sebelah daripadanya ada di darat dan di sebelah lainnya ada di laut? Para shahabat menjawab : Sudah tahu ya Rasulullah ? Beliau bersabda : Kiamat tak akan terjadi sebelum kota tersebut diserbu oleh 70.000 pasukan dari anak keturunan Ishaq. Apabila mereka telah datang ke kota itu, mereka singgah. Tetapi tidak berperang dengan senjata, dan tidak melemparkan satu anak panah pun. Mereka hanya mengumandangkan bacaan : La ilaha illa Alloh, wa Allohu Akbar, maka roboh salah satu dari kedua benteng (belahan) kota itu. Tsaur mengatakan, “Saya tidak tahu kecuali bahwa Rasulullah saw bersabda : Belahan (benteng) yang ada di laut”. Kemudian mereka mengucapkan untuk yang kedua kalinya : La ilaha illa Alloh wa Allohu Akbar, maka jatuhlah belahan (benteng) yang lain dari kota itu. Sesudah itu mereka mengucapkan pula untuk ketiga kalinya : La ilaha illa Alloh wa Allohu Akbar, maka terbukalah kota itu bagi mereka, sehingga mereka dapat memasukinya, lalu mendapatkan harta rampasan perang”. (Hr. Muslim)
Rosululloh saw bersabda :
“Kiamat tak akan terjadi sebelum kaum muslimin memerangi kaum Yahudi. Mereka akan diperangi kaum muslimin, sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Maka berkatalah batu dan pohon tersebut : Wahai orang Islam, wahai hamba Alloh, ini ada orang Yahudi bersembunyi dibelakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon gharqad, karena pohon itu adalah pohonYahudi”. (Hr. Ahmad)
Jadi kalau mau mulia ikutlah dalam kafilah tanda-tanda kebaikan di akhir zaman… Jika tidak, maka anda akan berada dalam kafilah tanda-tanda keburukan akhir zaman… Semuanya terserah anda… Semuanya telah dijelas di hadapan kita sekalian…