Arti Jahil

Diposting oleh AAS | 18.54 | | 0 komentar »

  1. Apakah arti jahiliyah dan bagaimana karekteristiknya

Jahiliyah berasal dari kata Ah Jahlu(arab)yang berarti bodoh. Ketika menerangkan arti bahasa dari Ah Jahlu, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

…………..(arab)

Ah Jahlu adalah tidak berilmu atau tidak mengetahui ilmu. Barangsiapa yang tidak mengetahui Al Haq (kebenaran) maka orang itu Jahil basith (sederhana) sedangkan jika berkeyakinan menyalahi Al Haq (kebenaran) maka orang itu Jahil Murakkab (bertingkat). Demikian pula orang yang beramal menyalahi Al Haq (kebenaran), maka diapun jahil., sekalipun dia mengetahui bahwa dirinya menyalahi kebenaran”

(­­baca : KitabIqtiha Ash Shirath Al Mustawim Mukhalifah Ashab Al Jahim, Tahqiq : Asy Syeikh Muhammad Hamid Al Faqi, Hal : 77 – 78)

Dr Shalih bin fauzan Al Mustaqim mengatakan bahwa jahiliyyah itu adalah:

“Kondisi yang dialami bangsa Arab sebelum Islam berupa kejahilan kepada Alloh, Rasul-rasul-Nya, Syariat Ad Dien, berbangga-bangga dengan keturunan, takabur, sombong dan lain-lain yang dikaitkan dengan kejahilan yang berarti tidak berilmu atau tidak mengikuti ilmu”

Dari perkataan beliau Jahiliyyah dapat dikaitkan dari 2 sisi yaitu :

  1. Sisi masa / zaman yaitu kondisi bangsa Arab pra Islam tentu saja jika demikian masa ini telah berakhir dengan diutusnya Rasulullah Saw. akan tetapi, perlu dipahami bahwa masa atau zaman mengandung karakteristik atau peristiwa yang terkandung di dalamnya yang bisa menjadi ukuran bagi zaman atau masa yang lain. Untuk itu sisi Jahiliyyah yang kedua adalah :
  2. Sisi karakteristik (Sifat-sifat atau peristiwa yang terjadi didalamnya). Sisi ini tidak akan berakhir dengan berakhirnya bangsa Arab atau setelah diutusnya Rasulullah Saw, karena dia bisa terjadi dan dapat dimiliki oleh zaman manapun, bisa terjadi dan dapat dimiliki oleh bangsa manapun atau pribadi manapun atau pribadi manapun, termasuk siapa saja diantara kita yang mengaku muslim.

Sisi karakteristik inilah yang dijelaskan oleh Muhammad Qutb rahimahullah tentang arti Jahiliyyah dalam Al-Qur’an Al Karim. Beliau mengungkapkan “Di dalam Al-Qur’an Al Karim lafadz Jahiliyyah memiliki makna khusus atau secara hakiki memiliki 2 makna terbatas yaitu :

Arab…….

  1. Jahil terhadap hakekat dan karakteristik Uluhiyyah, dan
  2. Bersikap hidup tanpa memiliki ikatan Rabbani atau dengan kata lain tidak mengikuti ajaran yang diturunkan oleh Alloh.

Kata-kata Dr.Shalih Fauzan “kejahilan kepada Alloh…” hingga akhirnya merupakan gambaran karakteristik Jahiliyyah yang tidak lepas dari 2 unsur pokok yang disebutkan oleh Muhammad Quthb tersebut. Terlebih lagi beliau memberikan sejumlah bukti dalam Al-Qur’an dan As Sunnah yang menjelaskan hal itu, di antaranya beliau mengutip firman Alloh SWT :

“ Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang telah menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagiamana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang jahil (terhadap sifat-sifat Alloh)”. (Qs. Al ‘Araf :138).

Jahil yang dimaksud dalam ayat ini adalah tidak mengetahui hakekat Uluhiyyah. Karena, seandainya mereka mengetahui bahwa Alloh Ta’ala (tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata) (Qs. Al An’am :103), (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia) (Qs. As Syura :11), (Pencipta segala sesuatu) (Qs. Al An’am : 102) dan bukan makhluk serta sifat-Nya tidak serupa dengan sifat makhluk-Nya, niscaya mereka tidak meminta hal tersebut yang menandakan kejahilan mereka terhadap hakekat Uluhiyyah.

Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Alloh seperti sangkaan jahiliyyah. Mereka berkata: “Apakah ada kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini”.

Yang dicela oleh Alloh terhadap kelompok tersebut adalah aqidah tertentu (tashawwur mu’ayyam) yang berkaitan dengan hakekat Uluhiyyah. Yaitu aqidah mereka bahwa ada pihak lain yang ikut campurtangan bersama Alloh dalam segala urusan serta kejahilan (ketidaktahuan) mereka bahwa yang menyempurnakan perbuatan hanyalah kehendak dan aturan Alloh Yang Maha Esa.

“Yusuf berkata :”Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil”. (Qs. Yusuf : 33).

Makna ayat ini berkaitan dengan sikap yang tidak diikat oleh ikatan Rabbani yaitu cenderung untuk (memenuhi keinginan) wanita, melanggar perintah Alloh dan terjerumus dalam urusan yang diharamkan Alloh. Itulah sesuatu yang oleh Yusuf ‘Alaihis Salam dikhawatirkan terjatuh ke dalamnya serta dimintakan perlindungannya kepada Alloh.

dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu”. (Qs. Al Ahzab : 33)

Makna ayat ini pun berkaitan dengan sikap hidup yang tidak diikat oleh ikatan Rabbani dan mengikuti aturan yang tidak diturunkan Alloh seperti wajibnya menjaga diri dan tidak menampakkan perhiasan wanita kecuali terhadap para mahramnya.

“Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin? (Qs. Al Maidah : 50).

(baca : kitab : “Ru’yah Islamiyyah Lii Ahwal Al ‘Alam Al Mu’ashri, Hal : 15 – 17)

2. Karakteristik inilah yang dapat saja terjadi pada perorangan atau suatu negara. Seorang yang tidak mengenal hakekat Uluhiyyah yang benar atau bersikap hidup tanpa ikatan Rabbani tentu disebut memiliki sifat Jahiliyyah, walaupun dia mengaku Islam. Begitu pula sebuah negara yang sistem hukum, norma dan tata nilainya bertentangan dengan hakekat Uluhiyyah atau tidak terikat dengan ikatan Rabbani dapat digolongkan sebagai negara Jahiliyyah, walaupun mayoritas penduduknya atau pemimpin kaum muslimin.

  1. Apakah hakekat Islam yang sesungguhnya ?

Al Islam (…….) yang memiliki akar kata dari (……) dalam bahasa Arab setidaknya mengandung tiga makna seperti di bawah ini :

o (arab………….) (bebas dan bersih dari penyakit lahir dan bathin)

o (………………) (damai dan tentram)

o (………………) (ta’at dan patuh)

(Ruuh Ad Dien Al Islaamy, Afif Abdul Fattah Thabbarah, hal : 13)

Dalam Al Qur’an kalimat Al Islam paling tidak menggambarkan 4 pemahaman yang amat penting :

1. Islam kontradiktif sebuah kesyirikan

Alloh berfirman :

“..katakanlah : Sesungguhnya aku diperintahkan agar aku menjadi yang pertama kali Islam dan jangan sekali-kali kalian masuk golongan orang-orang musyrik(Qs. Al An’am : 14)

2. Islam kontradiktif sebuah kekufuran

Alloh berfirman :

“…apakah (patut) dia menyuruh kalian berbuat kekafiran di waktu kalian sudah Islam(Qs. Al Imran : 80)

3. Islam bermakna kepada Alloh

Alloh berfirman :

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh..” (Qs. An Nisaa : 125)

4. Islam bermakna Al Khudlu dan Al Inqiyadh (Ketundukan dan kepatuhan)

Alloh berfirman :

“Dan kembalilah kepada Rabb kalian dan berserah diri / tunduk dan patuhlah kepadanya…” (Qs. Az Zumar : 54)

(Ibid, hal : 14)

Jika, dilihat dari asal maknanya, baik menurut bahasa maupun menurut apa yang dipahami di dalam Al Qur’an, maka Islam- sebagaimana yang dinyatakan oleh Dr. Shalah Ash Shawy – adalah :

Penyerahan diri secara mutlak kepada Alloh serta tunduk dan patuh dengan hidayat yang diturunkan kepada rasul-Nya”

(Tahkiim Asy Syari’at wa Da’aawi Al ‘Ilmaaniyah. Dr. Shalah Ash Shawi, Dar Ath Thayyibah, Riyadh. Cet. I tahun 1412 H. Hal : 23)

Makna Islam tersebut berarti mengandung 2 asas utama, yaitu :

1. Penyerahan diri secara mutlak kepada Alloh, serta

2. Tunduk dan patuh kepada syari’at yang dibawa oleh para rasul-Nya.

Muhammad bin Abdul Wahhab menambahkan asas makna Islam ini mejadi tiga yang diistilahkannya dengan tauhid, ta’at dan bara’ah dari syirik. Dia berkata :

Islam adalah berserah diri kepada Alloh dengan tauhid, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan keta’atan serta membebaskan diri (bara’ah) dari syirik”.

(Al Ushul Ats Tsalatsah, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal : 46)

Asas ketiga yang menjadi tambahan dari dua asas sebelumnya itu adalah :

3. Membebaskan diri dari berbagai bentuk kesyirikan (Al Bara’ah min Asy Syirik)

Dari sini dapat kita ketahui bahwa Islam terkait dengan 2 hal, prinsip dan tujuan hidup serta perbuatan dan sikap hidup. Prinsip dan tujuan hidup adalah tauhid yang tidak bercampur dengan syirik serta perbuatan dan sikap hidup yang ta’at kepada Alloh dengan ketundukan pada aturan-Nya yang diturunkan kepada para utusan-Nya. Kedua unsur inilah yang terkandung dalam 2 kalimat thayyibah aau 2 kalimat syahadat (persaksian), yaitu :

1) Syahadat tidak ada ilaah kecuali Alloh (……….) yang berarti hidup dengan prinsip dan tujuan tauhid. Dimana konswekensinya berarti membebaskan diri dari seluruh prinsip dan tujuan yang berbentuk syirik, yang dilambangkan dengan peribadatan / pengabdian kepada Thagut, Jibt, Andaad, Arbaab dan Aalihah dengan seluruh aksesoris dan subtansinya

(baca : [Qs 2 : 22; 165; 256 & 257], [Qs. 4 : 51; 60 & 76], [Qs. 5 : 60], [Qs. 16 : 36], [Qs. 39 : 17], [Qs. 9 : 31], [Qs. 3 : 64 & 80], [Qs. 12: 39], [Qs. 14 : 30], [Qs. 34 : 33], [Qs. 39 : 8], [Qs. 41 : 9])

2) Syahadat bahwa Muhammad adalah Rasul (utusan) Alloh. (……………..) yang berarti berbuat dan bersikap hidup dengan sunnah. Dimana konsekwensinya berarti membebaskan diri dari seluruh bentuk perbuatan dan sikap hidup bid’ah, yang dilambangkan dengan hidup hanya sesuai dengan akal, rasa, mimpi, khurafat, takhayyul, kontrak sosial dan atau hidup dengan aksesoris dan subtansi non Ittiba’ Rasul serta masyarakat Islami (para shahabat) di masa beliau.

(baca : [Qs. 2 : 129 & 151], [Qs. 3 : 164 & 179], [Qs. 4 : 13-14, 59-65, & 80], [Qs. 7 : 85], [Qs. 33 : 36], [Qs. 59 : 36], [Qs. 62 : 2]

C. Bagaimana Hakekat Islam sebagai Ad Dien ?

Ibnu Taimiyah rahimahulloh berkata :

“Ad Dien (…) adalah mashdar, dan mashdar disandarkan kepada fa’il (subjek) dan maf’ul (objek). Dalam bahasa Arab dikatakan (…) (Si fulan berdien kepada si fulan) jika dia mengabdi dan menta’atinya. Begitu pula dikatakan : (…) jika dia merendahkannya (……) (seorang hamba berdien kepada Alloh) jika dia mengabdi dan menta’ati-Nya. Jika, Ad Dien disandarkan kepada seorang hamba, maka berarti dia orang yang mengabdi dan menta’ati, sedangkan jika disandarkan kepada Alloh, maka berarti Dia Zat Yang diabdi dan dita’ati”.

(baca : Kitab “Majmu Fatawa” : 15/159)

Atas dasar tersebut, barangsiapa yang memasukkan diri dalam keta’taan kepada Alloh Yang Maha Esa dan ketundukkan diri terhadap hukum-hukum dan undang-undang-Nya serta mengikuti wahyu yang diturunkan kepada-Nya, maka berarti dia telah masuk dalam Dien Alloh, yaitu Islam serta menjadi abdi Alloh Yang Maha Esa. Selanjutnya, barangsiapa yang berpaling dari keta’atan Alloh Swt, hukum-hukum selain-Nya sekalipun dalam salah satu bagiannya – maka berarti dia telah masuk dalam dien Alloh dan pengabdi selain Alloh, sekalipun secara lisan beribu kali mengaku diennya adalah Islam. Alloh Swt berfirman :

“Dan berperanglah mereka, supaya jangan ada fitnah ada supaya dien itu semata-mata untuk Alloh. Jika mereka berhenti dan (dari kekafiran), maka sesungguhnya Alloh Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al Anfal : 39)

Ibnu Taimiyah rahimahulloh mengatakan :

Ad Dien adalah keta’atan. Jika sebagian Ad Dien (keta’atan) itu milik Alloh dan sebagian lainnya kepada selain Alloh, maka dia wajib diperangi hingga seluruh Ad Dien (keta’atan) milik Alloh”. (lihat : Kitab “Majmu Fatawa” : 28 / 544)

Ibnu Jarir Ath Thabari ketika mentafsirkan (dan supaya dien itu semata-mata untuk Alloh) mengatakan :

Supaya seluruh keta’atan dan pengabdian hanya milik Alloh murni, tanpa disekutukan dengan selain-Nya dan kata “fitnah” ditafsirkan dengan kesyirikan”.

(baca : Tafsir Ath Thabari)

Berdasarkan makna-makna Ad Dien memiliki 2 arti pokok, yaitu :

1. Hukum peradilan, undang-undang dan ‘urf (tradisi rakyat)

2. Keta’atan, pengikutan, kepatuhan, ketundukan dan penyerahan diri pada kedaulatan tertinggi yang memiliki wewenang

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Alloh, jika kamu beriman kepada Alloh, dan hari akhirat dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (Qs. An Nuur : 2)

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Alloh ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah ,menganiaya diri dalam bulan yang empat itu dan perangilah musyirikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semua; dan ketahuilah bahwasanya Alloh berserta orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. At Taubah: 36)

“ Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudarnya sendiri, kemudian mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Alloh menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki: dan diatas tiap-tiap orang yang bepengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui “. (Qs. Yusuf : 76)

“Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Alloh menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakan, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Qs. Al An’am : 137)

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh. Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Alloh) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang sangat pedih.” (Qs. As Syuuraa : 21)

“Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku” (Qs. Al Kafirun : 6)

Setelah menyebutkan ayat-ayat di atas, maka Al Maududi mengatakan :

Yang dimaksud dengan Ad Dien di dalam seluruh ayat tersebut adalah Al Qanun(Undang-undang), Hudud, Syari’at, Tahriqat (metode) serta nidzam berfikir dan amal yang mengikat manusia. Jika kedaulatan yang ditekankan untuk para pengikutnya adalah undang-undang atau sistem kedaulatan Alloh, maka tidak diragukan lagi bahwa itulah dienulloh. Sedangkan jika kedaulatan tersebut adalah kedaulatan seorang penguasa maka orang itu berada dalam dien penguasa tersebut. Jika dia menganut kedaulatan para syeikh atau tokoh agama, maka dia penganut dien mereka. Demikian pula jika kedaulatan tersebut adalah kedaulatan suku, marga, atau mayoritas umat, maka orang tersebut berarti penganut dien mereka.”

(baca : Al Kitab Al Qayyim Al Mushthalahat Al Arba’ah Fi Al Qur’an : 125)

Dari uraian tersebut dapat dismpulkan :

Dien Islam adalah hukum, undang-undang, tata nilai dan konsep hidup yang berasal dari Alloh melalui wahyu yang diturunkan kepada para Rasul-Nya untul dijadikan kedaulatan tertinggi dalam kehidupan manusia yang wajib dita’ati, diikuti, dipatuhi di mana seluruh kehidupan manusia dengan seluruh aspeknya tunduk dan menyerah padanya”.

Untuk itu Syeikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahulloh mengatakan :

Islam dengan makna umum berarti mengabdi kepada Alloh dengan apa saja yang diundang-undangkan-Nya, sejak Dia mengutus para rasul-Nya hingga hari kiamat. Banyak sekali ayat-ayat Alloh yang menunjukkan bahwa seluruh syari’at terdahulu adalah Islam kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Alloh Ta’la berfirman tentang Ibrahim :

“Ya Rabb kami,jadikanlah kami berdua orang yang Islam (tunduk dan patuh) kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara cucu-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Baqarah : 128)

Sedangkan Islam dengan makna khusus setelah diutusnya Muhammad Saw adalah wahyu yang dibawa oleh Muhammad Saw, karena wahyu yang disampaikan beliau membatalkan dien-dien yang telah lalu, sehingga orang yang mengikutinya adalah seorang muslim, sedangkan orang yang menyelisihinya adalah orang yang kafir. Pengikut-pengikut para rasul adalah muslim pada zaman rasul-rasul mereka. Yahudi adalah muslim di zaman Musa ‘Alaihi Salam dan Nashrani pun muslim di zaman Isa ‘Alaihi Salam. Sedangkan setelah diutusnya Muhammad Saw, mereka menjadi kafir bukan lagi muslim.

(baca : Kitab “Syarah Tsalats Al Ushul” : 20-21)


AAS (08/01/09)



MASYARAKAT ISLAMI

Diposting oleh AAS | 19.16 | | 0 komentar »

Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.

Sedangkan kebudayaan yang merupakan unsur pengikat bagi suatu masyarakat memiliki 3 ma`na :

1. Hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.

2. Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

3. Hasil akal budi dari alam sekelilingnya dan dipergunakan bagi kesejahteraan hidupnya.

Jika kita lebih mendalam mengkaji kembali Kitabulloh, maka kita dapati bahwa masyarakat dengan ma`na di atas disebutkan dengan kata ummah.

Ma`na ummah mencakup empat unsur pokok :

1. Thoifah (Sejumlah manusia)

Alloh swt berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً ...

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (komunitas manusia)… ", (QS. An Nahl (16): 36)

2. Zaman (masa tertentu)

وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ

Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada) Yusuf sesudah beberapa waktu lamanya (QS. Yusuf (12): 45)

3. Imam (pemimpin)

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam …(QS. An Nahl (16): 120)

4. Millah (agama)

وَكَذَلِكَ مَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلاَّ قَالَ مُتْرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama ". (QS. Az Zukhruf (43): 23) [Selebihnya...]

Oleh sebab itu, Ummah – menurut Ar Roghib Al Isfahani – berarti :

كُلُّ جَمَاعَةٍ يَجْمَعُهُمْ أَمْرٌمَا إِمَّا دِيْنٌ وَاحِدٌ أَوْزَمَانٌ وَاحِدٌ أَوْمَكَانٌ وَاحِدٌ سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ الأَمْرُ الْجَامِعُ تَسْخِيْراً أَوْاخْتِيَاراً

“Setiap jama`ah (sejumlah orang tertentu) yang terikat oleh sesuatu, baik oleh satu agama, satu masa atau satu tempat, baik ikatannya bersifat proses alamiyah maupun proses upaya manusia”.

Begitulah manusia sejak awwal merupakan makhluk yang hidup dalam ummah (suatu masyarakat) yang diikat oleh ikatan tertentu. Perbedaannya adalah bahwa apa yang disebutkan oleh banyak orang sebagai budaya sebagai pengikat suatu masyarakat, disebutkan oleh Al Qur`an sebagai agama, karena tidak ada satu budayapun yang lahir tanpa asas agama sebagai prinsip lahirnya. Alloh swt menyebutkan bahwa pada awalnya manusia berada dalam satu masyarakat yang hanya diikat oleh satu agama, yaitu Islam atau tauhid dimana seluruh kebudayaannya adalah kebudayaan yang mengabdi hanya kepada Alloh swt.

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلاَّ الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَاجَآءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللهُ يَهْدِي مَن يَشَآءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Manusia itu adalah ummat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al Baqarah (2): 213)

Ibnu Abbas rda berkata :

كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوْحٍ عَشْرَةُ قُرُوْنٍ كُلُّهُمْ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِنَ الْحَقِّ فَاخْتَلَفُوا فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ

“Di antara Adam dan Nuh terdapat 10 kurun yang kesemuanya berada di atas syari`at yang hak, kemudian mereka berselisih syari`ah. Maka oleh karena itu, Alloh mengutus para Nabi sebagai pembawa berita gembira dan pembawa berita ancaman”.

Akan tetapi setelah itu terjadilah perubahan besar jiwa dan asas yang mengikat masyarakat, dari ikatan Islam dan tauhid berpaling ke arah ikatan Jahiliyyah dan syirik. Hal tersebut dimulai dari masa masyarakat nabi Nuh `As. Alloh swt menceritakan hal ini dalam firmanNya :

Nuh berkata:"Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, Dan melakukan tipu-daya yang amat besar". Dan mereka berkata:"Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr", Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. Nuh berkata:"Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat kafir. Ya Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan". (QS. Nuh (71): 21-28)

Ibnu `Abbas rda berkata ketika mentafsirkan ayat di atas :

أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

“Semua ini adalah nama para tokoh yang sholih di kalangan kaum Nabi Nuh `as. Tatkala mereka telah mati, syaithon memberikan wahyu kepada kaum mereka ‘hendaklah kalian mendirikan patung–patung sebagai monument di tempat–tempat perkumpulan kalian dan namailah dengan nama-nama mereka, lalu merekapun melakukannya. Akan tetapi pada saat itu belum disembah, sampai di saat mereka mati dan ilmu (agama pun) dilupakan, saat itulah patung-patung tersebut disembah”.

Peristiwa ini tidak terlepas dari proses permusuhan makhluk terla`nat, yaitu Iblis yang dengan kesombongan dan keangkuhannya hendak mewujudkan kerajaan besar pada dirinya yang hendak mencabut dan menghancurkan akar ikatan manusia dengan keraajaan Alloh swt.

Alloh swt menceritakan Iblis dalam firmanNya :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat:"Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman:"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu". Menjawab iblis:"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman:"Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". Iblis menjawab:"Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman:"Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh". Iblis menjawab:"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at). Allah berfirman, "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semua". (QS. Al A'raaf (7):11-18)

Bahkan Rosululloh saw menceritakan secara gamblang seluruh usaha Iblis dalam memalingkan manusia dari kerajaan Alloh swt.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ قَالَ الْأَعْمَشُ أُرَاهُ قَالَ فَيَلْتَزِمُهُ. ( رواه مسلم، 2813 في صفة إبليس وجنوده، باب تحريق الشيطان).

Dari Jabir –rda- berkata, Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya syetan meletakkan 'arsy (kerajaan) nya di atas air, kemudian mengutus …. Salah seorang dari mereka melapor telah menurunkan fitnah yang besar dengan melakukan hal seperti ini dan seperti ini, kemudian sang raja syetan berkata, 'Tidak ada sesuatu pun yang telah engkau kerjakan. Berkata salah seorang jin, 'Saya telah mendatangi seorang suami dan saya tidak meninggalkannya sampai saya telah memisahkan dia dengan istrinya…

Dari Jabir rda berkata :

عَنْ سَبْرَةَ بْنِ أَبِي فَاكِهٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ تُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَآبَاءِ أَبِيكَ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ تُهَاجِرُ وَتَدَعُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ وَإِنَّمَا مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطِّوَلِ فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ فَقَالَ تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسَمُ الْمَالُ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ وَقَصَتْهُ دَابَّتُهُ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

Untuk itulah, dengan rahman dan rahim Alloh, Dia mengutus para rasul (utusan)nya untuk membawa misi Islam dan tauhid tersebut kepada setiap ummah (masyarakat). Tidak ada satu ummahpun yang luput dari pengiriman para rasul dengan misi mulianya tersebut.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl (16): 36)

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَآءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. (QS. Yunus (10): 47)

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَآ أُمَمٌ لِّتَتْلُوا عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَانِ قُلْ هُوَ رَبِّي لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ

Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (al-Qur'an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir terhadap Rabb Yang Maha Pemurah.Katakanlah:"Dialah Rabbku tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat". (QS. Ar Ra'ad (13): 30)

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa masyarakat di dunia ini menurut pandangan Kitabulloh hanya memiliki dua ikatan, yaitu masyarakat yang diikat oleh ajaran, system, hukum, tata nilai dan budaya dari para rasul, yaitu Islam dan tauhid atau masyarakat yang diikat oleh ajaran, system, hukum, tata nilai dan budaya yang bukan dari para rasul, yaitu jahiliyyah dan syirik. Bahkan Alloh swt menyebutkan bahwa semua ikatan selain yang berasal dari para rasul itu sebagai ikatan syaithon.

أَلَمْ تَرَإلِىَ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَآأُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآأُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحاَكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An Nisa' (4): 60)

Inilah asas yang dijadikan landasan oleh para fuqoha ketika membagi suatu teritorial dari suatu wujud masyarakat menjadi dua teritorial yaitu Darul Islam dan Darul Kufur.

Ma`na dar lebih menunjukkan pada adanya batas teritorial keberadaan suatu masyarakat. Apakah dar tersebut Islami atau jahili sangat tergantung pada apakah dar tersebut didaulati atau dikuasai oleh masyarakat Islami atau oleh masyarakat jahili.

Untuk itu para fuqoha menyebutkan unsur-unsur pembeda dari kedua dar tersebut :

1. Darul Islam yaitu teritorial yang dikuasai oleh masyarakat Islam, ciri utamanya adalah :

a. Pemimpinnya adalah salah seorang kaum mu`minin

b. Dien Islam tamkin (menjadi kedaulatan hukum).

c. rasa aman bagi kaum mu`minin.

2. Darul Kufur yaitu teritorial yang dikuasai oleh masyarakat jahili, ciri utamanya adalah :

a. Pemimpinnya bukan salah seorang kaum mu`minin

b. Dien Islam tidak tamkin

c. Hilangnya rasa aman kaum mu`minin

Ibnu `Abidin berkata :

اَلْمُرَادُ بِالدَّارِ اَلإِقْلِيْمُ الْمُخْتَصُّ بِقَهْرِ مُلْكِ إِسْلاَمٍ أَوْ كُفْرٍ

“Yang dimaksud dengan dar adalah teritorial tertentu dengan kedaulatan kerajaan Islam atau kufur”.

As Sarkhosi berkata :

إِنَّ الدَّارَ إِنَّمَا تُنْسَبُ إِلَيْنَا أَوْ إِلَيْهِمْ بِاعْتِبَارِِ الْقُوَّةِ وَالْغَلَبَةِ

“Dar dihubungkan untuk kita (Islami) atau untuk mereka (kufri) adalah tergantung pada kekuasaan dan kedaulatannya”.

Al Kasani berkata :

فَإِذَا ظَهَرَتْ أَحْكَامُ الْكُفْرِ فَي دَارٍ فَقَدْ صَارَتْ دَارَ كُفْرٍ

“Jika hukum kufur berdaulat di suatu teritorial, maka jadilah teritorial tersebut darul kufur.”

Abu Ya`la Al Farro Al Hambali berkata :

هِيَ كُلُّ دَارٍ كَانَتِ الْغَلَبَةُ فِيْهَا لأَحْكَامِ الإِسْلاَمِ دُوْنَ أَحْكَامِ الْكُفْرِ

“Darul Islam adalah setiap teritorial dimana di dalamnya kedaulatan berada pada hukum-hukum Islam, bukan hukum-hukum kufur”.

إندونيسيا: دولة إسلامية أو دولة غير إسلامية؟

السؤال الأول من الفتوى رقم (2635)

س: ما الشروط الواجب توفرها في بلد تكون دار حرب أو دار كفر؟

ج: كل بلاد أو ديار يقيم حكامها وذوو السلطان فيها حدود الله ويحكمون رعيتها بشريعة الإسلام، وتستطيع فيها الرعية أن تقوم بما أو جببته الشريعة الإسلامية عليها، فهي دار إسلام، فعلي المسلمين فيها أن يطيعوا حكامها في المعروف، وأن ينصحوا لهم، وأن يكونوا عونا لهم على إقامة شؤون الدولة، ودعمها بها أوتوا من قوة علمية وعملية، ولهم أن يعيشوا فيها، و ألايتحولوا عنها إلا إلى ولاية إسلامية، تكون حالتهم فيها أحسن وأفضل، وذلك كالمدينة بعد هجرة النبي –صم- إليها، وإقامة الدولة الإسلامية فيها، وكمكة بعد الفتح. فإنها صارت بالفتح وتولي المسلمين أمرها دار إسلام بعد أن كانت دار حرب تجب الهجرة منها على من فيها من المسلمين القادرين عليها.

وكل بلاد أو ديار لا يقيم حكامها وذوو السلطان فيها حدود الله ولا يحكون في الرعية بحكم الإسلام، ولا يقوي المسلم فيها على القيام بما وجب عليه من شعائر الإسلام"؛ فهي دار كفر، وذلك مثل مكة المكرمة قبل الفتح؛ فإنها كانت دار كفر، وكذا البلاد التي ينتسب أهلها إلى الإسلام، ويحكم ذوو السلطان فيها يغير ما أنزل الله، ولا يقوي المسلمون فيها على إقام شعائر دينهم، فيجب عليهم شرعا، ومن عجز عن الهجرة منها من الرجال والنساء و الولدان فهو معذور، و على المسلمين في الديار الأخرى أن ينقذوه من ديار الكفر إلى بلاد الإسلام. قال الله تعالى: إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُوْلاَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَآءَتْ مَصِيرًا {97} إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً {98} فَأُوْلاَئِكَ عَسَى اللهُ أَن يَعْفُوَعَنْهُمْ وَكَانَ اللهُ عَفُوًّا غَفُورًا{99}. ( النساء: 97-99).

وقال تعالى: وَمَالَكُمْ لاَتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا {75}. ( النساء: 75) أما من قوي من أهلها على إقامة شعائر دينه فيها، وتكمن من إقامة الحجة على الحكام و ذوي السلطان، و أن يصلح من أمرهم ويعدل من سيرتهم، فيشرع له البقاء بين أظهرهم؛ لما يرجي من إقامته بينهم من البلاغ والاصلاح مع سلامته من الفتن.

و بالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو عضو نائب رئيس اللجنة الرئيس

عبد الله بن قعود عبد الله بن غديان عبد الرزاق عفيفي عبد العزيز بن عبد الله بن باز

(فتاوي اللجنة الدائمة اللبحوث العلمية والإفتاء جمع وترتيب: الشيخ أحمد بن عبد الرزاق الدويش: 12/52-53)

"و كل دولة لا تحكم بشرع الله ولا تنقاد لحكم الله فهي دولة جاهلية كافرة طالمة فاسقة بنص هذه الآيات المحكمات، يجب على أهل الإسلام بغضها و معاداتها في الله وتحرم عليهم مودتها و موالاتها حتى تؤمن بالله وحدة وتحكم شريعته."

( مجموع فتاوى و مقالات الشيخ عبد العزيز ين عبد الله بن باز (نقد الومية العربية):1/309.)

( وقفات تربوية في ضوء القرآن الكريم لعبد العزيز بن ناصر الجليل: 3/151.)

"و بلد الشرك هو الذي تقام فيها شعائر الكفر و لا تقام فيه شعائر الإسلام كالأذان والصلاة جماعة و الأعياد و الجمعة على وجه عام شامل. وإنما قلنا على وجه عام شامل ليخرج ما تقام فيه هذه الشعائر على وجه محصور كبلاد الكفار التي فيها أقليات مسملة فإنها لا تكون بلاد إسلام بما تقيمه الأقليات المسلمة فيها من شعائر الإسلام. أما بلاد الإسلام فهي البلاد التي تقام فيها هذه الشعائر على وجه عام شامل"

( شرح ثلاثة الأصول للشيخ محمد بن صالح العثيمين بإعداد فهد بن ناصر إبراهيم السليمان: 129-130)

المطلب الحادي عشر

الغلو فيما يتعلق بالحكم على دار

.....

.....

ويقول ابن القيم: " دار الإسلام: هي التي نزلها المسلمون، وجرت عليها أحكام الإسلام، و ما لم يجر عليه أحكام الإسلام لم يكن دار إسلام وإن لا صقها."

ويقول السرخسي: (( المعتبر في حكم الدار هو السلطان والمنعة في ظهور الحكم))، وعلل ابن حزم هذا بقوله: (( لأن الدار إنما تنسب للغالب عليها والحاكم فيها والمالك لها )).

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka Jakarta Cet ke-2 1989 : 564)

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka Jakarta Cet ke-2 1989 : 131)

Al Mufrodat fi Ghoribil Qur`an. Ar Roghib Al Isfahani, Dar Al Ma`rifah – Beirut, Cet ke-3 tahun 1422 H : 33

Jami` Al Bayan, Ibnu Jarir Ath Thobari : 1/194 serta diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrok : 2 / 546, dia berkata : Shohih menurut syarat Al Bukhori dan keduanya tidak mentakhrijnya serta disepakati oleh Adz Dzahabi dan dishohihkan oleh Ibnu Al Qoyyim dalam Ighotsatul Lahfan : 2 / 620)

Hr. Al Bukhori dalam Shohihnya, Kitab At Tafsir Bab (4920

Hasyiyah Ibnu `Abidin : 4/166

Al Mabsuth : 10/114

Badai`u Ash Shonai`I : 9/4375

AAS (5/12/08)

Da'wah Usaha Mulia

Diposting oleh AAS | 18.19 | | 0 komentar »

Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.

Sedangkan kebudayaan yang merupakan unsur pengikat bagi suatu masyarakat memiliki 3 ma`na :

1. Hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.

2. Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

3. Hasil akal budi dari alam sekelilingnya dan dipergunakan bagi kesejahteraan hidupnya.

Jika kita lebih mendalam mengkaji kembali Kitabulloh, maka kita dapati bahwa masyarakat dengan ma`na di atas disebutkan dengan kata ummah.

Ma`na ummah mencakup empat unsur pokok :

1. Thoifah (Sejumlah manusia)

Alloh swt berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً ...

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (komunitas manusia)… ", (QS. An Nahl (16): 36)

2. Zaman (masa tertentu)

وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ

Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada) Yusuf sesudah beberapa waktu lamanya (QS. Yusuf (12): 45)

3. Imam (pemimpin)

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam …(QS. An Nahl (16): 120)

4. Millah (agama)

وَكَذَلِكَ مَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلاَّ قَالَ مُتْرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama ". (QS. Az Zukhruf (43): 23) [Selebihnya...]

Oleh sebab itu, Ummah – menurut Ar Roghib Al Isfahani – berarti :

كُلُّ جَمَاعَةٍ يَجْمَعُهُمْ أَمْرٌمَا إِمَّا دِيْنٌ وَاحِدٌ أَوْزَمَانٌ وَاحِدٌ أَوْمَكَانٌ وَاحِدٌ سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ الأَمْرُ الْجَامِعُ تَسْخِيْراً أَوْاخْتِيَاراً

“Setiap jama`ah (sejumlah orang tertentu) yang terikat oleh sesuatu, baik oleh satu agama, satu masa atau satu tempat, baik ikatannya bersifat proses alamiyah maupun proses upaya manusia”.

Begitulah manusia sejak awwal merupakan makhluk yang hidup dalam ummah (suatu masyarakat) yang diikat oleh ikatan tertentu. Perbedaannya adalah bahwa apa yang disebutkan oleh banyak orang sebagai budaya sebagai pengikat suatu masyarakat, disebutkan oleh Al Qur`an sebagai agama, karena tidak ada satu budayapun yang lahir tanpa asas agama sebagai prinsip lahirnya. Alloh swt menyebutkan bahwa pada awalnya manusia berada dalam satu masyarakat yang hanya diikat oleh satu agama, yaitu Islam atau tauhid dimana seluruh kebudayaannya adalah kebudayaan yang mengabdi hanya kepada Alloh swt.

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلاَّ الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَاجَآءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللهُ يَهْدِي مَن يَشَآءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Manusia itu adalah ummat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al Baqarah (2): 213)

Ibnu Abbas rda berkata :

كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوْحٍ عَشْرَةُ قُرُوْنٍ كُلُّهُمْ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِنَ الْحَقِّ فَاخْتَلَفُوا فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ

“Di antara Adam dan Nuh terdapat 10 kurun yang kesemuanya berada di atas syari`at yang hak, kemudian mereka berselisih syari`ah. Maka oleh karena itu, Alloh mengutus para Nabi sebagai pembawa berita gembira dan pembawa berita ancaman”.

Akan tetapi setelah itu terjadilah perubahan besar jiwa dan asas yang mengikat masyarakat, dari ikatan Islam dan tauhid berpaling ke arah ikatan Jahiliyyah dan syirik. Hal tersebut dimulai dari masa masyarakat nabi Nuh `As. Alloh swt menceritakan hal ini dalam firmanNya :

Nuh berkata:"Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, Dan melakukan tipu-daya yang amat besar". Dan mereka berkata:"Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr", Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. Nuh berkata:"Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat kafir. Ya Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan". (QS. Nuh (71): 21-28)

Ibnu `Abbas rda berkata ketika mentafsirkan ayat di atas :

أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

“Semua ini adalah nama para tokoh yang sholih di kalangan kaum Nabi Nuh `as. Tatkala mereka telah mati, syaithon memberikan wahyu kepada kaum mereka ‘hendaklah kalian mendirikan patung–patung sebagai monument di tempat–tempat perkumpulan kalian dan namailah dengan nama-nama mereka, lalu merekapun melakukannya. Akan tetapi pada saat itu belum disembah, sampai di saat mereka mati dan ilmu (agama pun) dilupakan, saat itulah patung-patung tersebut disembah”.

Peristiwa ini tidak terlepas dari proses permusuhan makhluk terla`nat, yaitu Iblis yang dengan kesombongan dan keangkuhannya hendak mewujudkan kerajaan besar pada dirinya yang hendak mencabut dan menghancurkan akar ikatan manusia dengan keraajaan Alloh swt.

Alloh swt menceritakan Iblis dalam firmanNya :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat:"Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman:"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu". Menjawab iblis:"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman:"Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". Iblis menjawab:"Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman:"Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh". Iblis menjawab:"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at). Allah berfirman, "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semua". (QS. Al A'raaf (7):11-18)

Bahkan Rosululloh saw menceritakan secara gamblang seluruh usaha Iblis dalam memalingkan manusia dari kerajaan Alloh swt.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ قَالَ الْأَعْمَشُ أُرَاهُ قَالَ فَيَلْتَزِمُهُ. ( رواه مسلم، 2813 في صفة إبليس وجنوده، باب تحريق الشيطان).

Dari Jabir –rda- berkata, Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya syetan meletakkan 'arsy (kerajaan) nya di atas air, kemudian mengutus …. Salah seorang dari mereka melapor telah menurunkan fitnah yang besar dengan melakukan hal seperti ini dan seperti ini, kemudian sang raja syetan berkata, 'Tidak ada sesuatu pun yang telah engkau kerjakan. Berkata salah seorang jin, 'Saya telah mendatangi seorang suami dan saya tidak meninggalkannya sampai saya telah memisahkan dia dengan istrinya…

Dari Jabir rda berkata :

عَنْ سَبْرَةَ بْنِ أَبِي فَاكِهٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ تُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَآبَاءِ أَبِيكَ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ تُهَاجِرُ وَتَدَعُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ وَإِنَّمَا مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطِّوَلِ فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ فَقَالَ تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسَمُ الْمَالُ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ وَقَصَتْهُ دَابَّتُهُ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

Untuk itulah, dengan rahman dan rahim Alloh, Dia mengutus para rasul (utusan)nya untuk membawa misi Islam dan tauhid tersebut kepada setiap ummah (masyarakat). Tidak ada satu ummahpun yang luput dari pengiriman para rasul dengan misi mulianya tersebut.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl (16): 36)

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَآءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. (QS. Yunus (10): 47)

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَآ أُمَمٌ لِّتَتْلُوا عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَانِ قُلْ هُوَ رَبِّي لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ

Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (al-Qur'an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir terhadap Rabb Yang Maha Pemurah.Katakanlah:"Dialah Rabbku tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat". (QS. Ar Ra'ad (13): 30)

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa masyarakat di dunia ini menurut pandangan Kitabulloh hanya memiliki dua ikatan, yaitu masyarakat yang diikat oleh ajaran, system, hukum, tata nilai dan budaya dari para rasul, yaitu Islam dan tauhid atau masyarakat yang diikat oleh ajaran, system, hukum, tata nilai dan budaya yang bukan dari para rasul, yaitu jahiliyyah dan syirik. Bahkan Alloh swt menyebutkan bahwa semua ikatan selain yang berasal dari para rasul itu sebagai ikatan syaithon.

أَلَمْ تَرَإلِىَ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَآأُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآأُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحاَكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An Nisa' (4): 60)

Inilah asas yang dijadikan landasan oleh para fuqoha ketika membagi suatu teritorial dari suatu wujud masyarakat menjadi dua teritorial yaitu Darul Islam dan Darul Kufur.

Ma`na dar lebih menunjukkan pada adanya batas teritorial keberadaan suatu masyarakat. Apakah dar tersebut Islami atau jahili sangat tergantung pada apakah dar tersebut didaulati atau dikuasai oleh masyarakat Islami atau oleh masyarakat jahili.

Untuk itu para fuqoha menyebutkan unsur-unsur pembeda dari kedua dar tersebut :

1. Darul Islam yaitu teritorial yang dikuasai oleh masyarakat Islam, ciri utamanya adalah :

a. Pemimpinnya adalah salah seorang kaum mu`minin

b. Dien Islam tamkin (menjadi kedaulatan hukum).

c. rasa aman bagi kaum mu`minin.

2. Darul Kufur yaitu teritorial yang dikuasai oleh masyarakat jahili, ciri utamanya adalah :

a. Pemimpinnya bukan salah seorang kaum mu`minin

b. Dien Islam tidak tamkin

c. Hilangnya rasa aman kaum mu`minin

Ibnu `Abidin berkata :

اَلْمُرَادُ بِالدَّارِ اَلإِقْلِيْمُ الْمُخْتَصُّ بِقَهْرِ مُلْكِ إِسْلاَمٍ أَوْ كُفْرٍ

“Yang dimaksud dengan dar adalah teritorial tertentu dengan kedaulatan kerajaan Islam atau kufur”.

As Sarkhosi berkata :

إِنَّ الدَّارَ إِنَّمَا تُنْسَبُ إِلَيْنَا أَوْ إِلَيْهِمْ بِاعْتِبَارِِ الْقُوَّةِ وَالْغَلَبَةِ

“Dar dihubungkan untuk kita (Islami) atau untuk mereka (kufri) adalah tergantung pada kekuasaan dan kedaulatannya”.

Al Kasani berkata :

فَإِذَا ظَهَرَتْ أَحْكَامُ الْكُفْرِ فَي دَارٍ فَقَدْ صَارَتْ دَارَ كُفْرٍ

“Jika hukum kufur berdaulat di suatu teritorial, maka jadilah teritorial tersebut darul kufur.”

Abu Ya`la Al Farro Al Hambali berkata :

هِيَ كُلُّ دَارٍ كَانَتِ الْغَلَبَةُ فِيْهَا لأَحْكَامِ الإِسْلاَمِ دُوْنَ أَحْكَامِ الْكُفْرِ

“Darul Islam adalah setiap teritorial dimana di dalamnya kedaulatan berada pada hukum-hukum Islam, bukan hukum-hukum kufur”.

إندونيسيا: دولة إسلامية أو دولة غير إسلامية؟

السؤال الأول من الفتوى رقم (2635)

س: ما الشروط الواجب توفرها في بلد تكون دار حرب أو دار كفر؟

ج: كل بلاد أو ديار يقيم حكامها وذوو السلطان فيها حدود الله ويحكمون رعيتها بشريعة الإسلام، وتستطيع فيها الرعية أن تقوم بما أو جببته الشريعة الإسلامية عليها، فهي دار إسلام، فعلي المسلمين فيها أن يطيعوا حكامها في المعروف، وأن ينصحوا لهم، وأن يكونوا عونا لهم على إقامة شؤون الدولة، ودعمها بها أوتوا من قوة علمية وعملية، ولهم أن يعيشوا فيها، و ألايتحولوا عنها إلا إلى ولاية إسلامية، تكون حالتهم فيها أحسن وأفضل، وذلك كالمدينة بعد هجرة النبي –صم- إليها، وإقامة الدولة الإسلامية فيها، وكمكة بعد الفتح. فإنها صارت بالفتح وتولي المسلمين أمرها دار إسلام بعد أن كانت دار حرب تجب الهجرة منها على من فيها من المسلمين القادرين عليها.

وكل بلاد أو ديار لا يقيم حكامها وذوو السلطان فيها حدود الله ولا يحكون في الرعية بحكم الإسلام، ولا يقوي المسلم فيها على القيام بما وجب عليه من شعائر الإسلام"؛ فهي دار كفر، وذلك مثل مكة المكرمة قبل الفتح؛ فإنها كانت دار كفر، وكذا البلاد التي ينتسب أهلها إلى الإسلام، ويحكم ذوو السلطان فيها يغير ما أنزل الله، ولا يقوي المسلمون فيها على إقام شعائر دينهم، فيجب عليهم شرعا، ومن عجز عن الهجرة منها من الرجال والنساء و الولدان فهو معذور، و على المسلمين في الديار الأخرى أن ينقذوه من ديار الكفر إلى بلاد الإسلام. قال الله تعالى: إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُوْلاَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَآءَتْ مَصِيرًا {97} إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً {98} فَأُوْلاَئِكَ عَسَى اللهُ أَن يَعْفُوَعَنْهُمْ وَكَانَ اللهُ عَفُوًّا غَفُورًا{99}. ( النساء: 97-99).

وقال تعالى: وَمَالَكُمْ لاَتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا {75}. ( النساء: 75) أما من قوي من أهلها على إقامة شعائر دينه فيها، وتكمن من إقامة الحجة على الحكام و ذوي السلطان، و أن يصلح من أمرهم ويعدل من سيرتهم، فيشرع له البقاء بين أظهرهم؛ لما يرجي من إقامته بينهم من البلاغ والاصلاح مع سلامته من الفتن.

و بالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو عضو نائب رئيس اللجنة الرئيس

عبد الله بن قعود عبد الله بن غديان عبد الرزاق عفيفي عبد العزيز بن عبد الله بن باز

(فتاوي اللجنة الدائمة اللبحوث العلمية والإفتاء جمع وترتيب: الشيخ أحمد بن عبد الرزاق الدويش: 12/52-53)

"و كل دولة لا تحكم بشرع الله ولا تنقاد لحكم الله فهي دولة جاهلية كافرة طالمة فاسقة بنص هذه الآيات المحكمات، يجب على أهل الإسلام بغضها و معاداتها في الله وتحرم عليهم مودتها و موالاتها حتى تؤمن بالله وحدة وتحكم شريعته."

( مجموع فتاوى و مقالات الشيخ عبد العزيز ين عبد الله بن باز (نقد الومية العربية):1/309.)

( وقفات تربوية في ضوء القرآن الكريم لعبد العزيز بن ناصر الجليل: 3/151.)

"و بلد الشرك هو الذي تقام فيها شعائر الكفر و لا تقام فيه شعائر الإسلام كالأذان والصلاة جماعة و الأعياد و الجمعة على وجه عام شامل. وإنما قلنا على وجه عام شامل ليخرج ما تقام فيه هذه الشعائر على وجه محصور كبلاد الكفار التي فيها أقليات مسملة فإنها لا تكون بلاد إسلام بما تقيمه الأقليات المسلمة فيها من شعائر الإسلام. أما بلاد الإسلام فهي البلاد التي تقام فيها هذه الشعائر على وجه عام شامل"

( شرح ثلاثة الأصول للشيخ محمد بن صالح العثيمين بإعداد فهد بن ناصر إبراهيم السليمان: 129-130)

المطلب الحادي عشر

الغلو فيما يتعلق بالحكم على دار

.....

.....

ويقول ابن القيم: " دار الإسلام: هي التي نزلها المسلمون، وجرت عليها أحكام الإسلام، و ما لم يجر عليه أحكام الإسلام لم يكن دار إسلام وإن لا صقها."

ويقول السرخسي: (( المعتبر في حكم الدار هو السلطان والمنعة في ظهور الحكم))، وعلل ابن حزم هذا بقوله: (( لأن الدار إنما تنسب للغالب عليها والحاكم فيها والمالك لها )).

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka Jakarta Cet ke-2 1989 : 564)

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka Jakarta Cet ke-2 1989 : 131)

Al Mufrodat fi Ghoribil Qur`an. Ar Roghib Al Isfahani, Dar Al Ma`rifah – Beirut, Cet ke-3 tahun 1422 H : 33

Jami` Al Bayan, Ibnu Jarir Ath Thobari : 1/194 serta diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrok : 2 / 546, dia berkata : Shohih menurut syarat Al Bukhori dan keduanya tidak mentakhrijnya serta disepakati oleh Adz Dzahabi dan dishohihkan oleh Ibnu Al Qoyyim dalam Ighotsatul Lahfan : 2 / 620)

Hr. Al Bukhori dalam Shohihnya, Kitab At Tafsir Bab (4920

Hasyiyah Ibnu `Abidin : 4/166

Al Mabsuth : 10/114

Badai`u Ash Shonai`I : 9/4375

AAS (5/12/08)